Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2009

Mungkinkah Koran Mengontrol Koran?


sumber gambar:http://bebibala2.files.wordpress.com/2009/08/koran1.jpg
Seperti halnya pemerintah yang memerlukan pihak oposisi sebagai penyeimbang pemerintahan, pengontrol kebijakan yang melenceng dari tujuan yang semestinya, demikian juga rasanya dengan media massa.
Media massa memerlukan “oposisi” sebagai penggairah. Sebagai kompas penunjuk arah kalau-kalau sesekali ada media massa yang “tersesat”, “meleceng”, atau yang memang iseng dan sengaja “melanggar”.
Mengapa “oposisi” ini perlu? Media massa (dalam hal ini koran) bisa salah. Untuk itu mesti ada yang mengontrol. Pertanyaannya kemudian adalah siapa yang bisa dan mau menjadi pihak “oposisi” dan mengontrol koran?
Televisi mungkin sudah memiliki badan yang bekerja mengontrol tayangan yang ada yaitu Komisi Penyiaran Indonesia. Di luar itu, televisi mendapatkan “masukan lebih” dari koran harian yang sering mengkritik acara-acara yang bagus dan buruk dalam sebuah pemberitaan koran (biasanya Kompas). Atau juga mengungkap sisi lain dari acara-acara di televisi.
Tapi koran sendiri tidak ada yang mengawasi dan mengkritik (kecuali saat ada majalah Pantau). Koran seakan lain. Mereka bebas melenggang seakan tak ada yang mengawasi. Bukan hanya mengawasi isi tapi juga mengawasi kecenderungan sebuah berita terhadap sesuatu. Seakan koran tak memiliki rem yang dikendalikan oleh orang yang ada di luar mereka. Lalu siapa yang bisa mengontrol koran itu sendiri? Pembaca?
Memang pembaca bisa bahkan sangat memungkinkan mengontrol koran dengan memberikan kritik dan saran. Apalagi jika kritik yang dilakukan disertai dengan pemboikotan, tidak membeli koran yang bersangkutan, misalnya. Dan karena sadar oleh rentannya kekeliruan yang bisa terjadi pada pengelola koran atau segala macam penerbitan itulah, maka ada istilah hak jawab dan hak ralat dalam kode etik jurnalistik. Namun nyatanya tidak banyak yang bisa menulis.
Mungkin, alasannya karena pembaca tidak memiliki waktu yang luang untuk menuliskan kritikan itu. Atau mungkin juga malas. Atau mungkin (dan ini bisa saja terjadi) karena pembaca “tidak bisa” menuliskan kritikannya. Menulis dalam arti tidak pandai merangkai kata untuk itu. Kata seorang teman menulis seperti memasak. Semua orang bisa memasak tapi kelezatan masakannya tentu akan berbeda. Seorang super chef akan menghasilkan masakan yang lezat dan mengundang selera karena telah terlatih. Sedangkan anak manja hanya akan menghasilkan masakan yang akan memalukan dirinya sendiri jika dihidangkan pada orang lain.
Maka, untuk menjembatani ketiadaan “oposisi” itu, rasanya perlu segera didengungkan bersama akan baiknya melakukan kontrol terhadap koran. Dan salah satu yang pantas sebagai monitor koran adalah koran juga. Mungkinkah koran mengontrol koran? Tentu saja. Di Amerika Serikat tradisi koran mengkritik koran sudah lumrah terjadi.
Mengapa mesti koran yang mengontrol koran? Alasan sederhana yang bisa dikemukakan adalah bahwa pengelola koranlah yang tahu banyak tentang “jeroan” koran termasuk apa yang baik dan tidak, apa yang pantas dan tidak, dan seterusnya dalam hal penerbitan.
Di sisi lain, ajang saling mengontrol ini akan membuat kompetisi yang sehat antar pengelola koran sehingga akan tercipta saling “memberi obat”. Meski pahit obat akan mengikis “penyakit” yang ada di koran bahkan menghilangkannya.
Masalahnya kemudian, relakah (baca: maukah) pengelola koran-koran itu saling melemparkan kritik satu sama lain? Jangan-jangan ajang saling kritik malah menjadi hal yang dikhawatirkan karena dimaknai dengan saling “serang”. Padahal kritik dalam konteks ini bermaksud untuk meningkatkan kualitas.
Menurut Andreas Harsono, salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang pernah mendapat program beasiswa untuk wartawan dari Nieman Foundation di Universitas Harvard, Amerika Serikat, tradisi saling kritik ini sudah lama dilakukan oleh koran di negara yang sudah memiliki tradisi yang tua dalam hal jurnalistik, Amerika. Ini sudah cukup lumrah. Dan Andreas percaya bahwa saling kritik ini untuk menguatkan kepercayaan pembaca kepada koran. Mengapa demikian?
Pertama, dengan saling mengkritik, para pengelola koran akan saling berlomba dalam memperbaiki isi atau penyajian berita untuk pembaca. Dengan sadar akan itu, wartawan, redaktur, dan pemimpin redaksi (pimred) akan lebih menggenjot kualitas. Tidak asal ada berita lalu diterbitkan. Tak hanya mempertanyakan berapa keuntungan bulan ini tanpa bertanya kualitas pemberitaan.
Kedua, tradisi mengkritik ini akan membuka cakrawala pembaca yang belum tahu mana yang dikategorikan oleh pengelola media massa sebagai yang bagus, etis, atau yang buruk dan tidak layak. Dengan begitu pembaca akan tercerahkan.
Jika banyak manfaatnya, rasanya koran mesti memikirkan peluang ini. Inilah tantangan yang mesti dijawab oleh pengelola koran.

Baca Selengkapnya......

Waspada Menekan Aksi Teroris

Aksi-aksi teroris walau bagaimana pun tidak akan pernah dibenarkan di mana pun dan kapan pun. Akal sehat tidak akan menerima aksi terorisme sebagai pembenaran. Hati kita juga akan menolak teroris sebagai hal yang mulia. Apalagi agama yang memiliki petunjuk dari Yang Maha Kasih. Saya kira, agama mana pun akan berkata demikian, mulai dari agama terbesar yang dianut oleh masyarakat Indonesia (bahkan dunia) atau agama yang minoritas pemeluk.
Terorisme adalah hal yang tidak akan diterima sebagai kebenaran karena bertentangan dengan nilai universalitas yang dimiliki manusia sejak lahir.
Namun (menurut beberapa pakar) kenyataan menunjukkan bahwa agama memiliki andil tidak sedikit dalam menanamkan ajaran teroris dalam kepala para pelaku teroris. Apakah benar demikian? Apakah agama (terutama Islam) memang membenarkan hal seperti itu?
Saya berani mengatakan tidak. Agama Islam tidak mengajarkan yang demikian. Yang ditekankan dalam agama (Islam) adalah tujuan akhir yang mesti dicapai oleh manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Apakah teror menjadi rahmat bagi manusia? Jelas tidak. Rahmat adalah kedamaian, keamanan, persaudaraan. Sedang teror justru sebaliknya.
Islam memang menganjurkan perang namun juga memiliki syarat-syarat kapan perang itu dibenarkan dalam Islam. Islam membolehkan angkat senjata hanya dalam waktu-waktu “tertentu” misalnya saat ada yang memerangi. Tapi—dalam perang itu—juga Islam memiliki aturan yang mesi ditegakkan. Ada etika meski dalam perang. Seorang muslim tidak dibenarkan untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa seperti warga sipil, anak-anak, wanita. Juga tidak boleh menghancurkan bangunan dan menebangi pohon. Dengan kata lain, Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan alam meski dalam keadaan perang!
Jika Islam menjunjung tinggi kemanusiaan, mana mungkin ia juga mengajarkan agar melukai kemanusiaan itu dalam bentuk teror. Sesuatu yang kontradiktif.
Adanya aksi teroris yang mengatasnamakan Islam sebetulnya lahir karena teks-teks keagamaan dalam Islam diselewengkan oleh mereka yang memiliki keinginan dan ambisi yang “agak aneh”. Ada tiga kemungkinan bagaimana terjadi kesalahan dalam memahami teks-teks suci ini sehingga melahirkan teroris.
Pertama, kemungkinan salah dalam menafsirkan teks keagamaan (al-Quran). Sebagaimana diketahui, untuk bisa memahami teks-teks keagamaan, dibutuhkan beberapa ilmu wajib yang mesti dikuasai sebagai penunjang. Kekurangan dalam penguasaan ilmu-ilmu ini akan berpengaruh dalam memahami teks. Bahkan tak jarang pemahaman yang dimiliki agak melenceng dari yang diinginkan oleh agama tersebut.
Kedua, pelaku memang sengaja mengambil beberapa teks keagamaan yang mendukung untuk melakukan jihad untuk menanamkan “kebenaran” bahwa yang mereka lakukan adalah jihad yang mulia. Padahal sebenarnya ada ayat-ayat lain yang tidak membolehkan jihad karena alasan-alasan tertentu. Dan alasan-alasan ini yang sengaja tidak dikemukakan karena ingin menanamkan doktrin “kebenaran” tadi.
Ketiga, pengulangan doktrin yang dilakukan oleh mereka yang merekrut orang-orang yang bersedia mengorbankan jiwa untuk hal yang sebetulnya belum tentu benar. Apa pun, jika diulang terus menerus akan membuat frame berpikir membenarkan itu meski sebetulnya tidak benar. Sebagai contoh iklan sebuah produk di televisi.
Orang yang sering melihat iklan dalam televis akan tertanam dalam pikirannya bahwa apa yang dilihatnya adalah benar atau baik. Ia juga akan termotivasi menggunakan produk itu karena doktrin-doktrin yang diluncurkan oleh produk tersebut terus diulang.
Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam menekan aksi terorisme?
Yang bisa kita lakukan adalah waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang akan dilakukan para teroris itu. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran para pembuat dan pelaku bom. Mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah kita duga dan bayangkan. Untuk itu waspada adalah cara bijak dalam menekan aksi-aksi terorisme yang memiliki seribu kemugkinan. Waspada terhadap orang asing, waspada pada hal-hal yang janggal, dan seterusnya.
Waspadalah dan jangan lengah.

Baca Selengkapnya......

WTS dan Kredibilitas Wartawan

Di dunia ini, ada saja yang mencoba memalsukan sesuatu demi mendapatkan keuntungan pribadi lebih. Tidak hanya barang elektronik atau kaos bermerk terkenal tapi juga profesi. Salah satu profesi yang suka “dibajak” akhir-akhir ini dan belum juga tuntas adalah wartawan. Julukan bagi pembajak ini sudah sedemikian berkembang mulai dari wartawan oje alias ore jelas (Jawa: tidak jelas), wartawan CNN (cuma nanya-nanya), sampai WTS (wartawan tapa surat kabar).
Tiga julukan itu menjelaskan bahwa wartawan-wartawan semacam ini hanya mewawancara narasumber tetapi tanpa menuliskan dan menerbitkannya dalam surat kabar, entah harian atau mingguan. Bila pun ada medianya, biasanya hanya terbit satu kali dan hanya sebagai “bukti” agar narasumber percaya bahwa mereka wartawan.
Keberadaan wartawan semacam ini jelas mengancam kredibilitas dan sangat merugikan wartawan profesional yang memang benar-benar bekerja untuk tugas jurnalistik karena cap jelek biasanya akan mendarat juga pada wartawan beneran itu. Seperti kata pepatah; karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Sebelum reformasi
Sebelum reformasi, mungkin jumlah pembajak wartawan sedikit. Bahkan jumlah wartawan beneran juga sedikit. Ini bisa terjadi karena saat Orde Baru, surat ijin mendirikan sebuah surat kabar yang dikenal dengan SIUP amat susah. Sehingga, hanya koran-koran yang sudah lama ada dan biasanya punya nama besar saja umumnya yang bertahan. Sedangkan surat kabar yang tidak jelas—apalagi yang hanya satu kali cetak saja—tidak mendapatkan tempat.
Ditambah dengan rezim yang otoriter dan memusuhi setiap kegiatan jurnalistik yang bisa mengancam pemerintahan, keberadaan wartawan tidak bisa sembarangan mengorek-orek kebusukan pemerintah saat itu. Dengan dalih menjaga stabilitas nasional, wartawan yang lantang menyerukan kebobrokan pemerintah akan “digebuk”. Salah satu hukumannya adalah membredel surat kabar yang memberitakan itu.
Apa yang dikhawatirkan oleh satuan kerja perangkat daerah yang mengatur dengan ketat waktu konfirmasi bagi para wartawan beberapa waktu lalu memang beralasan terkait maraknya wartawan tanpa surat kabar. Pasalnya, mereka amat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang mengkonfirmasi tapi seperti mengadili. Dan liputan yang mereka lakukan hanya memiliki satu tujuan yang ujung-ujungnya duit (Banten Raya Post, Rabu, 22 Juli 2009).
Bukan hanya di instasnsi pemerintah, para wartawan ini juga biasa memeras masyarakat setiap kali mereka meliput daerah tersebut. Di beberapa daerah di Banten malah ada wartawan yang mengancam pihak sekolah dengan pemberitaan setelah sebelumnya mewawancarai mereka.
Sebenarnya ini bukan kasus baru. Keberadaan wartawan tak jelas sudah ada sejak lama. Kelahiran wartawan semacam ini agaknya dilatarbelakangi beberapa hal. Pertama, adanya “sumbangan” bagi wartawan yang meliput. Bukan lagi rahasia umum bahwa ada semacam “tanda terima kasih” bagi wartawan setiap kali meliput. Ini memang memang dilematis. Bahkan pernah ada juga pejabat yang sengaja menyediakan “amplop” khusus bagi wartawan sebagai anggaran tambahan.
Hal yang semacam ini seperti gayung bersambut. Apalagi jika gaji wartawan di media tempatnya bekerja memang suka kurang ketimbang pengeluarannya. Fenomena semacam ini tentu saja akan mengundang siapa pun yang memiliki sedikit keberanian dan sedikit acting menjadi seorang wartawan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ibarat pepatah, ada gula ada semut.
Kedua, ketakutan beberapa oknum yang bermasalah dengan gertakan wartawan gadungan. Apalagi jika sang oknum memang tengah bermaslah, misalnya diduga korupsi. Dengan kompensasi tidak akan dimuat di koran, ia akan membayar sang juru berita. Namun justru dengan begitu sang wartawan akan semakin sering memerasnya karena ia mendapatkan “lahan basah” yang setiap saat bisa ia hisap airnya.
Ketiga, belum adanya gerakan bersama-sama mengangkat sebuah sikap agar para wartawan gadungan hilang. Gerakan ini bisa dimulai oleh para wartawan profesional dengan melaporkan kepada pemerintah wartawan yang perlu dicurigai. Tindakan lebih lanjut adalah, melaporkan para oknum ke pihak kepolisian agar jera.
Gerakan ini bisa sukses jika semua pihak bersatu.
Jika tak ada gerakan bersama memberantas wartawan oje, maka akan selalu ada masalah yang mereka timbulkan. Dan akibat yang ditimbulkan oleh oknum wartawan ini akan semakin memperparah citra wartawan profesional lainnya sebagai tukang peras, penjahat pena.

Baca Selengkapnya......

Mengintip Pariwisata Kita

Apa yang membedakan kita dengan negara lain, misalkan Malaysia, dalam pariwisata? Salah satunya mungkin kegencaran dalam hal promosi.
Malaysia sangat gencar mempromosikan pariwisata mereka (dengan jargon “the truly asia”) ke negara-negara luar melalui siaran televisi internasional atau website. Sedangkan kita “agak lemah” dalam hal yang sama. Saking lemahnya kita dalam promosi, sampai-sampai di Timur Tengah, Indonesia lebih dikenal dengan negara penuh bencana dan gudang TKI ketimbang tanah gemah ripah loh jinawi dari media internasional. Begituah menurut laporan koran Kompas beberapa waktu lalu.
Dengan lemahnya promosi sebagai negara yang banyak tempat wisata, tidak menutup kemungkinan kita juga hanya akan semakin dikenal dengan negara yang rawan akan aksi teroris oleh negara-negara di luar negeri. Pengeboman di Bali, dan peristiwa teranyar adalah pengeboman Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton. Kejadian yang menewaskan lebih banyak warga negara asing ini semakin memukul dunia pariwisata kita karena beberapa negara menghimbau rakyatnya agar tidak dulu mengunjungi Indonesia.
Saya tidak akan jauh-jauh membicarakan pariwisata kita secara nasional. Saya hanya ingin membicarakan tentang pariwisata di lokal saja. Banten khususnya. Bagaimana pariwisata di daerah kesultanan ini?
Jika dicatat dan diungkapkan, sebenarnya banyak potensi pariwisata Banten yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah daerah. Betapa kaya Banten kita ini dengan kebudayaan dan alam sebagai modal menarik bagi dunia pariwisata yang tak dimiliki daerah lain. Dan selama ini hanya beberapa nama tempat saja yang terkenal oleh mereka yang berada di luar Banten. Pantai Anyer dan Carita adalah contoh yang paling popular sebagai tempat pariwisata dibanding tempat pariwisata yang lain. Di kedua pantai ini biasanya selalu ramai pengunjung pada akhir pekan, hari libur, juga pada lebaran.
Ketenaran Anyer juga lebih banyak didapat oleh turis domestik dari mulut ke kuping saja. Atau dari karya fiksi semisal Balada Si Roy karya Gola Gong yang sempat “boomong” tahun delapan puluhan. Bukan karena promosi yang dilakukan pemerintah daerah di media massa apalagi internet.

Jalan alternatif
Banyak yang mesti dperbaiki agar dunia pariwisata kita lebih dikenal seluruh lapisan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Salah satunya adalah dengan gencar berpromosi seperti Malaysia itu. Mungkin akan banyak memakan biaya jika pemeritah daerah mesti memasang iklan di media internasional. Tapi tentu masih ada banyak jalan lain selain memasang iklan di media internasional, salah satunya adalah memanfaatkan internet sebagai jalan alternatif.
Sebagai media yang lintas batas daerah bahkan negara, internet bisa digunakan sebagai tempat berpromosi kebudayaan yang dimiliki Banten mulai dari makanan, acara-acara besar, sampai tempat bagus dan lain sebagainya. Informasi tempat pariwisata dan tempat membeli makanan khas atau cinderamata khas, bisa dilengkapi dengan informasi rute bagaimana bisa sampai ke tempat tujuan. Atau jika memungkinkan sekalin dengan harga ongkos dari satu tempat ke tempat lain agar tahu jalur yang lebih cepat dari mana, atau jalur yang murah mesti kemana.
Cara ini bisa memungkinkan dan sangat menjanjikan untuk menarik wisatawan. Apalagi pengguna internet sudah semakin banyak. Dan orang-orang sekarang memang biasanya menggunakan iternet sebagai rujukan untuk memperoleh informasi apa pun yang mereka butuhkan tidak terkecuali jika akan mengunjungi suatu tempat untuk berwisata.
Bagaimana promosi pariwisata Banten saat ini? Saya tidak tahu banyak. Tapi untuk hal promosi di dunia maya rasanya belum maksimal. Untuk mengetahui rute ke Baduy saja Dinas Pariwisata kita belum punya. Bahkan yang lebih menyedihkan pemerintah daerah yang menangani pariwisata kita belum memiliki website sebagai ajang promosi. Dinas Pariwisata kita masih kalah oleh Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka memiliki website lengkap dengan info keterangan obyek wisata, hotel, desa wisata, wisata kuliner, tempat belanja, transportasi, sampai peta wisata.
Jika pemerintah daerah tidak sempat membuat promosi-promosi itu sendiri, ada baiknya diadakan lomba tulis, film dokumenter, atau lainnya yang berkaitan dengan promosi pariwisata Banten. Selain bisa merangsang kreatifitas warga Banten, juga pemerintah daerah bisa langsung memilih karya-karya yang memang layak guna mempromosikan Banten sebagai tujuan wisata. Dengan begitu kita berharap pendapatan daerah bisa semakin meningkat agar kesejahteraan masyarakat juga bisa meningkat.
Selain masalah promosi, tentu infrastruktur juga mesti diperhatikan agar keamanan dan kenyamanan bisa didapatkan karena esensi dari pariwisata adalah bagaimana memanjakan mata, lidah dan telinga. Salah satu yang mesti diperhatikan adalah jalan raya sebagai jalur mengakses daerah yang ingin dikunjungi.
Sudah saatnya Banten dikenal dengan citra postif lainnya dan tidak melulu hanya dikenal sebagai daerah mistik, jawara, santet, pelet dan seterusnya.

Baca Selengkapnya......

Fenomena Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Judul dalam tulisan ini adalah tema dalam sebuah diskusi pendidikan di aula kampus IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten beberapa waktu lalu.
Dalam Diskusi yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Adab yang menghadirkan Dinas Pendidikan Provinsi Banten, pengasuh Pesantren La Tansa Lebak, Pengamat Pendidikan, dan Komisi Perlindungan Anak itu terbukalah kasus-kasus kekerasan yang terjadi selama ini terutama di dunia pendidikan. Kekerasan yang tidak hanya dalam bentuk ringan namun juga kekerasan yang sudah mengarah pada tindak pidana.
Yayah Rukiyah, M.Pd. dari Komisi Perlidungan Anak Banten mengatakan bahwa di Negara kita ada sekitar 1926 kasus kekerasan fisik selama tahun 2008. Itu hanya yang terekspose atau diketahui. Belum yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Kalau dijumlah dengan yang tidak terekspose mungkin jumlahnya akan semakin membesar. Bahkan kita akan tercengang mendengarnya.

Kekerasan Fisik
Di lembaga pendidikan kita yang semestinya tempat untuk membentuk jasmani, mental, dan intelektual para murid secara baik malah terkadang menjadi tempat kekerasan tumbuh subur. Saya tidak mengatakan bahwa di semua sekolah terjadi kekerasan. Saya hanya mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya kekerasan bisa saja terjadi di mana pun termasuk di sekolah.
Mungkin kita masih ingat bagaimana kekerasan yang ditayangkan oleh media massa menyoroti kekersan fisik yang dilakukan beberapa oknum di Institut Perguruan Dalam Negeri atau IPDN. Cliff Muntu sebagai korban tindak kekerasan yang dilakukan para seniornya adalah gambaran dari kekerasan yang telah mengurat dan baru terbongkar. Ini juga menjadi pelajaran dari betapa “pamer pengaruh” dalam bentuk kekerasan, meski tidak diniatkan untuk membunuh, bisa mengantar seseorang ke liang lahat.
Kekerasan yang dilakukan oleh siswa atau mahasiswa yang lebih dulu masuk lembaga pendidikan biasanya disebabkan oleh dendam karena mereka juga pernah diperlakukan demikian saat pertama kali masuk lembaga tersebut. Ada unsur balas dendam yang tertanam atas perlakuan senior sebelumnya. Tapi ternyata kekerasan juga tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa atau siswa terhadap siswa lain. Seorang guru juga tak jarang melakukan tindak kekerasan semacam ini. Menurut Drs. Abd. Rachman Assegaf, M. Ag., dkk. dalam artikel “Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan” disebutkan bahwa di akhir tahun 1997, di salah satu Sekolah Dasar Negeri Pati, seorang ibu guru kelas empat menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Atas dalih menegakkan disiplin, seorang pengajar rela melakukan kekejaman itu.
Dan belum lama ini juga terekspose di televisi bahwa ada seorang guru yang menghukum muridnya dengan membantingnya ke tanah. Adegan ini direkam oleh seorang murid menggunakan handphone. Ini menambah kasus kekerasan fisik yang terjadi di dunia pendidikan.
Sanksi yang niat awalnya adalah hanya memberikan efek jera agar tidak terulang kesalahan serupa namun ternyata mendistorsi tujuan awal itu karena berlebihan.

Kekerasan Mental
Namun tidak hanya kekerasan dalam bentuk fisik yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Ada kekerasan lain yang tidak kalah membahayakan dari kekerasan fisik yaitu kekerasan psikis. Kekerasan ini tidak bisa terlihat secara langsung namun bisa mempengaruhi bahkan sampai seumur hidup akibat trauma. Kekerasan ini adalah kekerasan yang menyerang mental. Kekerasan psikis tidak hanya menyebabkan seorang anak minder, takut, tidak percaya diri, pemurung, yang membuatnya tidak berkembang tapi jauh dari itu seorang anak akan cenderung membenci kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah.
Kekerasan mental dalam bentuk ini juga suka terjadi di kampus. Ada dosen yang suka mengancam karena merasa berkuasa sebagai orang yang memiliki otoritas dalam memberikan nilai. Jika ia tidak suka dengan salah seorang mahasiswa—karena tidak sependapat saat diskusi, misalnya—maka ia akan memberikan nilai kecil kepada mahasiswa tersebut. Inilah kekerasan yang tidak terlihat namun sering juga terjadi entah terhadap mahasiswa atau siswa.
Dalam bentuk apa pun, kekerasan fisik mapun psikis tidak dapat diterima karena akan ada yang dirugikan oleh tindakan itu.

Meminimalisir Kekerasan
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir volume kekerasan-kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan? Ada beberapa catatan yang bisa sama-sama kita renungkan yang muaranya ada pada para pendidik. Pertama, pada dasarnya, seorang anak manusia hanyalah amanah Tuhan yang diberikan kepada orangtua. Lalu orangtua yang melahirkan mengamanahkan lagi kepada guru. Maka, seorang guru mesti menjaga amanah ini bukannya merusak apa yang telah Tuhan amanahkan kepadanya.
Kedua, pendidik mesti mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam mendidik. Atau aspek sikap (afektif) murid. Selama ini, yang ditekankan dalam dunia pendidikan kita, terutama pada era Orde Lama, adalah aspek kecerdasan otak (kognitif) saja. Sedangkan kecerdasan emosi dan spiritual siswa terabaikan. Seolah kehidupan bisa diarungi hanya dengan memiliki semua pengentahuan. Padahal kesuksesan dalam mengarungi hidup sesungguhnya banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Sebagai contoh konkret kasus calon legislator yang gila akibat tak terpilih pada Pemilu April lalu. Ia bukan saja gagal dalam pemilihan tapi juga gagal dalam hidup. Kalau saja ia masih memegang teguh ajaran Tuhan, (cerdas spiritualnya) maka mungkin tak akan sampai mendapat anjuran dirawat di Rumah Sakit Jiwa.
Akibat pengagungan terhadap kecerdasan otak, siswa terus saja kita cekoki dengan pengetahuan dari buku. Dan dengan sendirinya, guru atau orang tua, lebih sering menghargai anak yang bisa menjawab pertanyaan dalam ujian ketimbang anak yang memiliki sikap sopan atau jujur.
Ketiga, sudah saatnya para guru dan orang tua, juga masyarakat secara luas dapat menerima seorang anak dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan cara ini, kita dapat mengendalikan keinginan dan ambisi kita dalam membentuk kecerdasan seorang anak.

Baca Selengkapnya......

Mulok dan Pengembangan Bahasa Daerah

Ketika ada wacana memperhatikan bahasa ibu atau bahasa daerah semakin semarak akhir-akhir ini di media massa lokal, ada yang persoalan lain yang mendasar dan tak boleh luput dari pengamatan: bahasa ibu itu (Sunda dan Jawa) ternyata tidak diajarkan di sekolah-sekolah kita di Banten. Padahal lembaga pendidikan sebagai tempat memanusiakan manusia juga memiliki peran dan tanggung jawab yang tidak kecil dalam memperhatikan kelangsungan bahasa ibu atau bahasa daerah.
Tapi kita bisa sedikit berbahagia ketika persoalan mendasar ini kemudian ditangkap oleh Dewan Pendidikan (DP) Kota Serang dan Komite Sekolah se-Kota Serang yang mengusulkan bahwa bahasa Jawa-Serang dimasukkan sebagai kurikulum dalam muatan lokal (mulok) di sekolah mulai SD, SMP, SMA, dan SMK. Tujuannya? “Kami merasa mulok itu penting bagi siswa agar bahasa Jawa-Serang itu tak hilang dimakan waktu, sehingga penting untuk diketahui oleh anak cucu hingga cicit kita,” ujar sekretaris DP Kota Serang Furtasan Ali Yusuf (Radar Banten, 28 Maret 2009).
Apa sebenarnya mulok itu? Mulok (sebagaimana dijelaskan oleh J. Drost, SJ. dalam Reformasi Pengajaran) adalah bahan pengajaran yang dibuat oleh sekolah bertujuan agar para siswa merasa kerasan di sekolah. Dengan adanya mulok, siswa di sekolah diharapkan—terutama Sekolah Dasar—tidak merasa tercabut dari lingkungan hidup sehari-hari mereka. Seperti akan melepaskan ikan ke aquarium yang baru, agar tak setres maka ikan mesti dibiarkan dulu berada dalam plastik untuk beberapa saat sebelum dilepaskan agar dapat menyesuaikan diri. Setelah nyaman,barulah ia dilepaskan.
Begitulah fungsi mulok dalam sekolah. Sehingga sekolah tidak menjadi tempat yang asing bagi mereka (terutama dalam berkomunikasi) karena bahasa pengantar yang digunakan di sekolah adalah bahasa Indonesia, bahasa yang oleh sebagian atau beberapa siswa yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-hari agak asing. PP no. 28 menjelaskan tentang mulok berbunyi: “Satuan pendidikan dasar dapat menambahkan mata ajaran sesuai dengan keadaan lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan bersangkutan....” Mata ajaran bisa berbentuk macam-macam. Ada yang berbentuk pengajaran bahasa daerah, atau yang lain seperti permainan, misalnya.
Jika mengacu definis mulok di atas, bahasa Jawa-Serang jelas mengandung muatan lokal. Dengan begitu bahasa Jawa-Serang bisa diajukan menjadi muatan lokal di sekolah.

Pelajaran Menyenangkan
Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Begitu pepatah mengatakan. Jika bahasa Jawa-Serang disetujui oleh Dinas Pendidikan Kota Serang—dan langkah ini bisa diikuti oleh Dinas Pendidikan Provinsi—menjadi mata ajaran yang bermuatan lokal di sekolah, maka Dindik Kota Serang sesungguhnya tidak hanya membuat bahasa daerah terjaga tapi juga membuat siswa betah di sekolah karena ada satu pelajaran yang menyenangkan dan hasilnya bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai mulok pelajaran bahasa daerah menjadi perlajaran yang dibenci siswa karena tidak bisa seperti saat saya sekolah dulu. Bahasa daerah yang diajarkan saat itu adalah bahasa Sunda yang biasa digunakan masyarakat Garut, Bandung, dan sekitarnya. Sedangkan saya yang tinggal di Serang tidak menggunakan bahasa Sunda Bandung itu sebagai alat komunikasi sehari-hari. Di Serang, yang mayoritas menggunakan bahsa Jawa-Serang sebagai alat komunikasi, bahasa Sunda semacam itu tidak berguna karena tak ada yang bisa menggunakannya. Memang benar bahwa di Banten, terutama di Pandeglang dan Lebak terdapat juga bahasa Sunda, namun sangat berlainan dengan yang digunakan masyarakat Bandung dan sekitarnya.
Setelah Banten menjadi provinsi, apalagi sekarang sudah menginjak usia yang kesembilan, sudah saatnya bahasa-bahasa daerah yang digunakan masyarakat di Banten diajarkan di sekolah-sekolah sebagai usaha pelestarian, meskipun bahasa memang berkembang setiap saat seperti yang diungkapkan Alif Danya Munsyi dalam Bahasa Menunjukkan Bangsa. Setidaknya, kita masih bisa menyaksikan bahasa daerah eksis di tengah gempuran bahasa-bahasa asing yang dianggap lebih keren, intelek, dan seterusnya.
Bahasa daerah sangat berguna agar siswa dapat berkomunikasi secara baik dalam bahasa ibunya kepada yang lebih tua, yang lebih muda, atau siapa pun dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu, dengan memasukkan bahasa daerah sebagai mulok berarti ikut berperan dalam melestarikan salah satu bagian dari kebudayaan sebagaimana diserukan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Syukur-syukur, dan kita bisa saja berharap, setelah diajarkan bahasa daerah, para siswa dapat menggunakan dan mengembangkan bahasa daerah dengan membuat karangan berbahasa ibu. Di Jawa Barat banyak pengarang yang membuat karangan dengan bahasa Sunda. Lalu apa asalahnya jika ada yang membuat karangan berupa novel, cerpen, puisi, esai atau karangan lainnya dengan menggunakan bahasa Jawa-Serang. Bukankah itu juga baik? Dan penerapan mulok di sekolah menjadi salah satu harapan berkembangnya bahasa daerah di Banten.

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 25 Juli 2009

TKI Bukan Budak

Banyak kasus penyiksaan yang terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita. Bahkan terlalu banyak jika diungkapkan dalam tulisan ini. Meski begitu, seakan tidak ada rasa risih atau takut yang menyelimuti rakyat kita untuk mengais uang di negara-negara tetangga (luar negeri). Seakan, adegium meski hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri tidak bisa membuat kaki mereka tetap berpijak di negeri ini.
Keadaanlah yang membuat mereka mesti menyebrangi lautan dan bekerja sebagai tenaga kasar di negeri orang. Saat negara dan swasta tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan, dan pada saat yang sama ada celah kecil untuk mendapatkan penghasilan, maka mereka lebih memilih memasuki celah itu.
Hidup memang mesti realistis. Rasa lapar tidak dapat diganjal dengan batu. Pendidikan dan hidup layak hanya bisa terpenuhi jika ada uang. Dan bekerjalah jalan untuk itu semua. Maka, saat ada tawaran sebagai TKI langsung mereka sambut dengan gembira demi masa depan yang lebih baik.
Dan resiko bekerja jauh di negeri orang memang besar, apalagi sebagai pembantu. Salah satu resikonya adalah mesti siap terhadap hal-hal yang buruk seperti kasus kekerasan yang dilakukan sang majikan. Ini bukan menakut-nakuti karena realita berbicara demikian. Meskipun mesti diutarakan pula, bahwa tidak semua TKI kita mendapatkan kekerasan saat bekerja. Bahkan banyak juga yang kembali lagi bekerja ke negeri orang karena ia baik-baik saja saat bekerja disana.
Telah banyak diberitakan penyiksaan-penyiksaan yang terjadi pada TKI kita. Kasus teranyar adalah kasus Modesta Rengga Kaka, TKI asal Kampung Ngambadeta, Desa Wanotalo, Kecamatan Wewera Utara, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.
Tubuh Modesta diberitakan dipenuhi bekas luka merata, daun telinganya rusak, dan pendengarannya tidak berfungsi dengan baik. Bahkan dokter memperkirakan pendengarannya bakal rusak permanen (Tempo, 28 Juni 2009).
Diduga, kekerasan yang dialami oleh Modesta dilakukan oleh majikannya sendiri di Malaysia. Kasus ini diketahui oleh polisi setempat karena teman Modesta tidak tahan melihatnya disiksa.
Nama-nama TKI lain yang mengalami nasib buruk, yang bisa diurutkan disini (yang diketahui oleh media massa saja) adalah Nirmala Bonat, Ceriyati, Parsiti, Kurniasih, Maryati, Fiktoria Usnaat, Siti Fathonah, Sti Hajar. Ini hanya nama-nama TKI yang bernasib memprihatinkan dan yang bekerja di Malaysia. Belum lagi yang bekerja di negara lain seperti Arab Saudi, misalnya, atau yang lainnya.

Tiga Penyebab
Kenapa TKI kita seolah tetap saja memaksakan diri untuk “betah” bekerja walaupun sering disiksa sang majikan? Ada banyak kemungkinan. Namun dalam hal ini, penulis hanya akan memaparkan tiga sebab kenapa mereka tetap bertahan.
Mayoritas TKI kita tetap bertahan untuk tidak kabur dari tempat mereka bekerja karena, pertama, menunggu gaji yang masih digantung sang majikan. “Saya tak mau lari karena saya tetap berharap gaji saya dibayar,” ungkap Modesta mengungkapkan alasannya kenapa dirinya tidak juga mau berhenti bekerja meski kerap disiksa.
Kedua, karena ketakutan menyelimuti mereka. Seorang majikan yang melakukan tindakan penyiksaan tidak akan dengan enteng melepaskan TKI kita. Pasti mereka akan melakukan tekanan-tekanan agar TKI kita tidak melapor kepada kepolisian, tidak mengadu kepada teman, bahkan tidak bisa kabur. Seorang tetangga di kampung saya, TKW yang baru pulang dari Madinah, mengaku mesti melapor kepada majikannya setiap kali akan membuang sampah. Mereka, sang majikan itu, begitu ketat menerapkan peraturan yang membatasi ruang gerak TKI kita. Dan dalam banyak kasus, tekanan-tekanan semacam ini bekerja sukses mengecilkan nyali.
Ketiga, karena para TKI kita tidak tahu kemana mau melapor karena tidak tahu daerah dimana mereka bekerja.
Untuk itu, sistem yang diterapkan selama ini mesti diperbaiki. Pihak-pihak terkait (pemerintah, penyalur TKI dan lainnya) hendaknya tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan dari TKI-TKI itu tapi juga memikirkan bagaimana nasib mereka di negeri orang. Keamanan mereka mesti dipikirkan. Mesti dipikirkan juga bagaimana agar para TKI itu pulang ke kampung dengan selamat dan tanpa harus bercerita duka kepada keluarga mereka.
Sebentar lagi, Presiden baru akan terpilih sebagai pemimpin negeri ini. Siapa pun yang akan terpilih sebagai nahkoda bangsa ini, kita berharap ia bisa memperbaiki nasib TKI kita. Mesti banyak yang diperbaharui agar para TKI itu tidak lagi mengalami perlakuan yang tidak manusiawi. TKI adalah manusia merdeka. Jelas, mereka bukan budak yang bisa (dan halal) mau diapakan saja seperti saat masa jahiliyah dulu.
Semoga nasib TKI kita bisa menjadi lebih baik lagi dan dapat bekerja dengan aman. Syukur-syukur, Indonesia tidak perlu lagi “mengekspor” warganya ke negeri mana pun juga. Amin.

Baca Selengkapnya......

Jumat, 01 Mei 2009

Tiga Kejutan Pemilu 2009

Dalam Pemilihan Umum April 2009 lalu, ada banyak sekali kejutan. Tidak hanya mengejutkan kita sebagai rakyat, tapi juga mereka yang mencalonkan diri menjadi legislator. Ada tiga kejutan yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini dari sekian banyak kejutan yang mengiringi pesta demokrasi kita itu.

Tiga Kejutan
Kejutan pertama datang dari Mahkamah Konstitusi. Para caleg dikejutkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menegaskan cara penetapan calon terpilih mesti mengacu pada prinsip suara terbanyak bukan nomor urut. Kejutan yang tak terduga sama sekali. Ada caleg yang senang—terutama yang berada pada nomor urut sepatu—namun ada juga yang geram karena sudah dengan susah payah duduk di nomor urut paling kecil. Bukan apa-apa, karena untuk mendapatkan nomor urut paling kecil membutuhkan perjuangan bahkan biaya yang tidak sedikit.
Kejutan kedua datang dari Komisi Pemilihan Umum. KPU menetapkan bahwa cara memilih pada Pemilu 2009 mesti dicontreng bukan dicoblos. Giliran rakyat yang susah. Terutama yang buta huruf, yang sudah tua, dan tidak terbiasa memegang pulpen saat memberikan suara.
Kejutan ketiga datang dari Rumah Sakit Jiwa. Kita dikagetkan dengan berita yang tak menggembirakan. Kita terkejut karena satu persatu muncul berita tentang beberapa calon legislator yang gagal terpilih dinyatakan terkena gangguan jiwa. Bahkan mereka sedang dirawat di rumah sakit jiwa!
Lihatlah berita di bawah ini.
Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat (BKJM) Kalawa Atei Palangkaraya merawat lima pasien gangguan jiwa pascapemilu 9 April, dua di antaranya merupakan calon anggota legislatif (caleg) dan tiga lainnya simpatisan partai politik (parpol).
Begitu diberitakan oleh Kompas.com pada Selasa, 14 April 2009 pukul14:35 WIB.
Awalnya, saya hanya mengira bahwa apa yang dilakukan oleh beberapa Rumah Sakit Jiwa termasuk juga Depatemen Kesehatan yang menghimbau agar seluruh Rumah Sakit Jiwa di seluruh Indonesia siaga satu pascapemilu 9 April adalah hanya sikap berlebihan saja. Lebay, kata anak gaul kita hari ini. Tapi apa yang saya perkirakan ternyata meleset setelah membaca berita di Kompas.com di atas. Ditambah dengan berita-berita yang ditayangkan televisi tentang berbagai ironi yang menimpa para caleg yang tak terpilih.
Selain ada caleg dan simpatisan yang terkena gangguan jiwa, bahkan ada caleg yang menjadi peminta-minta. Lalu ada juga yang bunuh diri padahal dalam keadaan hamil. Beban yang dipikul para caleg yang kalah itu seakan melebihi beratnya beban gunung mana pun. Dan mereka tak dapat menanggung beban yang terlalu berat itu.
Apa yang menimpa para caleg itu adalah pukulan telak. Bagaimana mereka akan tahan jika sebelum mencalonkan diri memiliki uang berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus juta tapi hanya dalam hitungan bulan, mereka kehilangan harta itu. Lalu yang tersisa hanya spanduk, stiker, bendera, kaos, dan atribut lainnya bertuliskan namanya. Atau berfotokan wajahnya.
Yang juga tersisa adalah kenyataan pahit bahwa mereka kalah dalam pertempuran merebutkan kursi. Malu karena tidak bisa menyingkirkan saingan padahal sebelumnya begitu optimis akan menang kepada para simpatisan yang mendukung. Karena tak tahan menahan malu dan terpukul akibat kekalahan inilah para caleg berpikir pendek dan stres.

Jalur Pengabdian
Jalur politik sesungguhnya adalah jalur pengabdian kepada masyarakat. Jalur ini menjadi sangat ampuh dalam mengabdikan diri karena berkaitan dengan kekuasaan dalam mengatur. Dan jalan ini juga yang diambil oleh para pejuang pendahulu kita untuk membela rakyat yang tersiksa oleh cengkraman penjajah. Di jalur ini mereka berjuang memperjuangkan dan merealisasikan mimpi memerdekakan bangsa Indonesia. Maka, saat mereka diturunkan dari jabatan atau kehilangan jabatan—bahkan ada yang sambil diperjara—mereka tidak setres lalu membutuhkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Jiwa mereka tak terguncang karena itu sebab mereka menjalani jalur pengabdian itu dengan ikhlas. Tanpa pamrih.
Rasanya cukuplah kejutan-kejutan yang tak menggembirakan ini hanya terjadi pada Pemilu April 2009 lalu. Jangan ada lagi kejutan pada pemilihan calon Presiden nanti. Atau kejutan di media massa karena caleg yang kita pilih kemarin tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi.

Baca Selengkapnya......

Kampanye dan Apatisme Masyarakat


Survey terbaru yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan bahwa 87,8 persen responden memilih tidak mau ikut dalam arak-arakan kampanye (Kompas, 29 Maret 2009). Indikasi golongan putih atau golput meningkat kah ini? Atau juga indikasi apatisme masyarakat terhadapa sistem Pemilu? Padahal Pemilu adalah salah satu produk sistem model demokrasi yang didengung-dengungkan sebagai jalan menuju perbaikan kehidupan.
Bisa jadi memang begitu. Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram golput namun efeknya tidak dapat banyak mengubah apatisme yang sudah terlanjur menyebar di masyarakat. Sumber golput adalah kekecewaan terhadap Pemilu. Banyak kalangan menilai bahwa Pemilu tidak membawa perubahan berarti selain mereka yang terpilih menjadi pejabat memiliki pangkat. Padahal yang menjadi masalah bukan sistem melainkan orang yang menjalankan sistem itu. Mereka yang kurang percaya terhadap Pemilu percaya bahwa tidak ada hal yang berarti sebagai efek positif dari pesta demokrasi lima tahunan itu. Pemilu tetap tidak bisa menaikkan pendapatan masyarakat. Harga-harga tetap “liar”. Tidak bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pengangguran yang semakin banyak setelah PHK besar-besaran akibat krisis global. Bahkan seorang tetangga di rumah berkata begini, “Ya... ikut nyoblos atau tidak sama saja. Kita sendiri yang mesti berjuang mati-matian mencari uang.” Lalu anaknya meluruskan, “Nyontreng, Bu. Bukan nyoblos.”
Bahwa ketika kampanye partai Demokrat pada Jumat lalu di alun-alun Kota Serang dihadiri oleh banyak orang ada banyak alasan yang melatarbelakanginya tentu. Pertama, yang hadir pada saat kampanye tidak selamanya ingin mendengar orasi atau pidato politik. Sangat jarang yang berniat semacam ini. Kalau dulu, ketika Soekarno sering berorasi di depan khalayak, pidato-pidatonya memang ditunggu-tunggu. Sekarang lain. Para pengurus partai malah mengiming-imingi masyarakat dengan para artis agar mau datang. Mungkin hanya kader partai yang memiliki niatan “lurus” dari awal mengikuti kampanye. Sedangkan simpatisan, susah mengatakan bisa seperti itu.
Bisa jadi, yang mau datang ke tempat kampanye saat itu pun, terdorong karena hanya ingin melihat sosok Presiden dengan mata kepala sendiri yang setiap harinya hanya dapat mereka saksiskan di layar televisi. Nilai jual jabatan Presiden rupanya cukup ampuh dalam menggalang massa. Atau, karena ada artis-artis yang akan memeriahkan kampanye sebagaimana diharapkan oleh team kampanye Demokrat. Bahkan saya sendiri rela datang, kepanasan dan berdesak-desakan di alun-alun Kota Serang kemarin juga karena hanya ingin melihat group band Ungu dan Andra and The Back Bone saja. Sedangkan yang lainnya tidak masuk dalam daftar niat saya.
Kenapa saya bisa menilai demikian? Buktinya konkret. Setelah usai kampanye, beberapa bendera partai Demokrat, poster SBY, dan tak terhitung jumlah stiker, tergeletak begitu saja di tempat kampanye. Bahkan ada yang terinjak-injak, menjadi alas duduk, basah, bahkan hancur. Mereka seakan tidak peduli dengan atribut-atribut partai yang sewaktu berangkat didekapnya. Setelah dipakai, atribut itu seakan tidak berguna lagi. Tinggal pemulung yang memungutnya. Itu pun untuk dijual di lapak-lapak barang bekas.
Namanya orang kecil, tidak peduli benar dengan simbol-simbol semacam itu.
Kedua, tidak selamanya yang hadir benar-benar ingin datang. Mungkin ia hanya ingin mendapatkan “jatah bensin” saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa membagi-bagikan “alakadarnya” ini sangat lumrah saat datang Pemilu. Dan bagi rakyat kecil, “jatah bensin”, yang dalam ukuran para caleg tidak seberapa, sudah lumayan untuk jajan hari ini ketimbang tidak menghasilkan apa-apa. Dari pada narik ojek yang belum pasti akan dapat berapa ketika mengeluarkan sepeda motor dari rumah. Seperti diungkapkan seorang teman beberapa waktu lalu, “Lumayan uang bensinnya. Kalau udah dapet mah mau sampe tujuan atau enggak urusan lain.”
Pencontrengan calon legislatif hanya tinggal menghitung hari. Siapa pun yang akan menjadi pejabat nanti memiliki tugas yang amat berat. Mereka diharapkan bisa memulihkan kembali kepercayaan rakyat terhadap demokrasi yang dipilih oleh Indonesia sebagai landasan bernegara. Jika tidak, bisa jadi pada Pemilu mendatang hanya orang-orang partai yang akan datang di Tempat Pemungutan Suara (TPS) bukan rakyat yang akan mereka perjuangkan.

Baca Selengkapnya......

Minggu, 08 Februari 2009

Mereka yang Dapat Mengguncang Dunia

"Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia."
(Soekarno)

Menawarkan pemimpin pemuda hari ini seperti memberikan angin segar di tengah alam perpolitikan Indonesia yang semakin “gersang”. Kegersangan itu ditandai kelangkaan sifat dan sikap para pejabat tua yang tidak memberikan contoh baik sebagaimana diberitakan di media massa. Di antara berbagai sikap yang tidak baik itu adalah sifat korupsi pejabat yang sering terungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini juga menandakan bahwa kepemimpinan elit poitik yang sudah tua, telah mengkhianati apa yang telah diamanatkan rakyat kepada mereka saat diambil sumpah sebagai pejabat. Dan sikap seperti ini tidak akan banyak memberikan harapan perbaikan pada bangsa gemah ripah loh jinawi ini.
Karena masyarakat sudah frustasi dengan kelakuan pejabat yang tua—meskipun di berbagai survey yang diadakan baru-baru ini tokoh-tokoh politik tua masih digemari—maka pemuda bisa menjadi penawar bagi sikap frustasi ini.
Di sinilah pemuda diberikan kesempatan dan ditantang oleh masyarakat untuk membuktikan bahwa mereka bisa lebih baik dari para orang tua. Energik, idealis, semangat, banyak ide segar, dan seterusnya, begitulah gambaran yang melekat pada pemuda. Dan ini bisa menjadi modal dasar demi perbaikan itu.
Lagi pula, dalam Undang-Undang Dasar 1945, setiap warga negara memang berhak mengecap politik termasuk di dalamnya adalah pemuda. Bahkan founding fathers kita (para pendidiri negri ini) sudah terjun dan berjuang melalui partai politik, baik yang dibuatnya atau yang sudah ada sejak mereka masih muda. Sejak mereka mahasiswa.

Pemuda-Pemuda Tangguh
"Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia." Begitu berapi-api apa yang diucapkan Soekarno di atas. Saya, yang tak pernah melihat sosok Soekarno secara langsung namun dapat merasakan betapa kalimat itu memiliki pancaran semangat, nyali, dan optimisme yang begitu tinggi. Tapi... kemudian muncul pertanyaan: benarkah yang diucapkan Soekarno itu?
Soekarno memang orator ulung. Ia memang sangat bisa dalam menggerakkan dan menggelorakan semangat siapa saja yang mendengar orasinya. Dan saya kira Soekarno tidak main-main dengan pernyataannya tentang keunggulan pemuda. Ia adalah sosok figur yang didengar kata-katanya oleh banyak orang bahkan oleh seluruh rakyat Indonesia saat itu. Maka, agak janggal jika pernyataannya hanya omong kosong belaka. Dan agaknya tidak dapat diterima oleh akal sehat jika seorang yang memiliki posisi demikian bicara asal bicara. Kosong tak berisi.
Ia sebagaimana yang kita tahu adalah seorang yang luas ilmu pengetahuannya. Ia membaca banyak literatur sejak masih sekolah. Buku-buku tentang kesenian, politik, agama, dan filsafat ia kunyah sehingga membentuk pola pikirnya. Karena itu, ia pasti punya pengetahuan tentang yang diucapkannya itu. Tak mungkin ia hanya sekedar ngomong tanpa dasar.
Pengetahuan yang dimilikinya kemudian diperkuat oleh pengalamannya sendiri selama memperjuangkan Indonesia sejak muda. Kita tahu sebagaimana semasa perjuangan dulu, ia dan teman-teman seperjuangannya—yang sama-sama masih muda—dengan semangat bergelora berperang dengan penjajah, mengusirnya dari Indonesia. Setelah itu, Soekarno dan kawan-kawan ikut berperan di dunia politik internasional. Padahal negara yang ia wakili merupakan negara yang lahir kemarin sore. Namun Soekarno sangat percaya diri dengan kemampuannya. Bahkan Soekarno dan kawan-kawan dapat membuat Indonesia disegani dan diperhitungkan di dunia internasional.
Tapi pemuda seperti apa yang bisa mengguncangkan dunia seperti yang diungkapkan Soekarno? Tak mudah menjawabnya. Namun saya mendapatkan sedikit gambaran pemuda seperti apa yang dimaksud Soekarno.
Pemuda yang dimaksud tentu saja pemuda yang memiliki mimpi-mimpi besar dan meyakini mimpi-miminya. Kita tahu bahwa saat Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Tomo, dan lain-lain saat meneriakkan kemerdekaan Indonesia—mereka masih berusia muda—pada saat itu mereka sedang bermimpi. Karena tidak ada Indonesia sebelumnya. Tapi mereka tetap mendekap erat mimpi itu. Mereka meyakininya, dan berjuang segenap tenaga mewujudkan mimpi itu. Mereka mencurahkan segenap perhatian hidupnya demi apa yang diimpikan dan cita-citakan.
Dan akhirnya, kita sama-sama tahu dari sejarah bahwa negara bernama Indonesia—mimpi para pejuang pemuda itu—bisa berdiri. Tegak. Dan menjadi salah satu negara yang diakui oleh dunia internasional. Bahkan saat Soekarno menjadi presiden, Indonesia menjadi negara yang cukup berpengaruh di dunia internasional.
Maka, tak berlebihan bila hanya dengan sepuluh pemuda dunia akan dapat digoyangkan. Karena mereka adalah pemuda-pemuda tangguh yang mau bermimpi setinggi langit dan mau bekerja keras mewujudkan mimpinya.

Belajar dari Para Pemuda Pilihan
Soekarno, Hatta, dan kawan-kawan seperjuangannya adalah sebuah potret dari pemuda-pemuda kebanggan yang pernah dimiliki bangsa ini. Mereka memiliki kepedulian yang tinggi kepada rakyat. Mereka memang dibesarkan di mana diskriminasi dan perlakuan semena-mena yang dilakukan penjajah menjadi hal yang sangat sering dirasakan. Bahkan keadilan tidak bisa didapatkan pada masa itu. Keadilan hanya milik penjajah dan tuan tanah.
Sadar dengan apa yang menimpa rakyat, mereka belajar dengan sungguh-sungguh lalu memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Mereka adalah para pemuda dengan wawasan luas, memiliki visi untuk maju, memahami apa yang diinginkan oleh rakyat dan memihak pada mereka. Mereka adalah pemuda pilihan. Pada merekalah rakyat memberikan kepercayaan untuk membawa bahtera Indonesia yang kaya sumber daya alamnya ini.
Perjuangan mereka diawali dari bawah karena sebenarnya mereka juga termasuk ke dalam rakyat kecil itu. Hanya saja, mereka memiliki nasib yang lebih baik karena dapat mengenyam pendidikan. Sehingga mata mereka dapat terbuka dengan apa yang mereka baca dan pelajari dari buku-buku dari negara-negara yang lebih maju yang mereka baca. Mereka adalah para pemuda yang rela masuk-keluar penjara demi memperjuangkan mimpi mereka membawa rakyat menuju kemerdekaan.
Dan kepada mereka inilah sebaiknya para pemuda yang akan memimpin negri ini bercermin.

Penutup
Saya rasa, kepemimpinan muda di Indonesia untuk saat ini memiliki peluang yang sangat baik dan terbuka lebar di tengah-tengah kelangkaan figur yang dapat dijadikan contoh baik. Di tengah hiruk pikuk dunia politik yang penuh dengan nuansa Korupsi. Namun para pemuda seperti founding fatherslah yang saat ini dinanti. Pemuda-pemuda sebagai jelmaan Ratu Adil yang dinanti-nanti. Pemuda yang dimaksud adalah mereka yang peka terhadap kehidupan sosial, berwawasan luas, dan pro rakyat. Pemuda seperti ini yang ditunggu-tunggu.
Maka, tak mengapa bila ada pemuda yang mau menjadi pemimpin dalam organisasi, ormas, atau parpol sekalipun. Bahkan peluang kepemimpinan pemuda di Indonesia sangat terbuka lebar. Mungkin Barack Obama bisa menjadi cermin bagaimana seorang pemuda menjadi begitu dikagumi dan diharapkan membawa perubahan seperti slogan Presiden Amerika kulit hitam pertama ini saat kampanye: change.
Tapi, sudah bukan saatnya lagi para calon pemimpin rakyat (yang masih muda-muda itu) hanya mengandalkan senyum dalam poster, baliho, spanduk, banner, dan stiker. Lebih dari itu, mereka harus benar-benar mau memihak pada kepentingan rakyat kemudian memperjuangkannya.
Mereka mesti memberi rakyat program-program yang menggugah dan kongkret sehingga rakyat bisa tahu sejauh mana sang calon pro rakyat.

Baca Selengkapnya......

Rabu, 21 Januari 2009

Kenapa Caleg Tidak Menulis?


Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) pada April 2009 nanti, para politisi mulai dari caleg, capres dan cawapres pastinya akan saling berlomba tebar pesona dan pengaruh dalam menggaet suara para pemilih nanti. Ada yang menitikberatkan “memancing” pada para pemilih pemula, ada yang mengkhususkan diri ke generasi muda, rakyat kecil dengan menawarkan harga sembako, pendidikan murah, pelayanan kesehatan gratis dan seterusnya.
Dan stiker, liflet, bendera, baliho, pamflet, kaos pun dicetak besar-besaran. Ratusan juta terbuang. Sejumlah tempat yang dianggap bisa diakses banyak orang menjadi sasaran pemasangan dan penempelan. Bahkan tempat-tempat yang tak semestinya juga menjadi sasaran tempat pemasangan. Akhirnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpo PP) pun terpaksa turun tangan menertibkannya.
Maka, tak mengherankan bila banyak baliho, liflet, pamflet, yang terpajang berjejer, menumpuk, bahkan saling tindih demi dilihat banyak pemilih. Harapannya, semakin banyak yang tahu mudah-mudahan semakin banyak yang akan memilihnya nanti di Pemilu.
Cara yang lebih tertib, sopan, dan lumayan modern—karena memiliki dana lebih untuk kampanye—adalah dengan memasang iklan di media massa baik di koran, majalah, tabloid, bahkan buletin. Ada yang memasang di iklan kuping sebuah koran, di belakangnya, di dalam, bahkan Presiden SBY sempat membuat trobosan yang menggemparkan saat memasang iklan Partai Demokrat di setengah halaman paling depan di Kompas.

Tidak Kreatif
Bagaimana rupa iklan para politisi kita baik yang menggunakan cara konfensional atau yang sudah lumayan modern? Rata-rata, iklan, pamflet, stiker, atau baliho itu hanya berisi gambar calon dengan senyum “manis” disertai kata-kata, “Mohon doa restu dan dukungan.”, “Saatnya yang muda mengabdi.”, ”Mendengar aspirasi rakyat.” “Pilihan tepat.”, dan semacamnya. Atau membuat iklan advetorial. Tapi dalam iklan-iklan itu ternyata tak ada yang mencantumkan visi misi sebagai pencapaian yang diinginkan. Atau target yang akan diperjuangkan nanti ketika terpilih.
Jika cara yang ditempuh oleh sang caleg hanya cara semacam ini tentu saja dalam mempromosikan dirinya akan beresiko ada penilaian bahwa sang calon tidak memiliki visi misi jelas. Langka ide. Miskin trobosan. Tidak kreatif. Tidak konkret. Hanya bermodal tampang, gelar akademik atau keagamaan. Bagaimana ia akan bekerja jika tidak ada target-target yang ditetapkan untuk memperjuangkan rakyat. Apalagi calon yang termasuk pendatang baru dalam dunia politik yang tidak banyak diketahui background dan track record-nya.
Padahal, jika dipikir kembali, sarana-sarana atau atribut kampanye yang dipajang di tempat-tempat umum itu sesungguhnya dapat menjadi penyambung lidah yang dapat berinteraksi langsung dengan rakyat. Dengannya juga hati pemilih bisa diambil. Agak mubadzir saya kira jika sarana-sarana dan atribut kampanye yang sudah dibeli dengan harga mahal itu jika hanya diisi dengan gambar wajah dan permohonan doa dan dukungan—ucapan yang sudah sering dipakai banyak orang dan sudah sangat amat klise dan membosankan didengar.

Menulis di Media Massa
Jika Barack Obama menggunakan facebook untuk menggalang dukungan bahkan dana saat kampanye, maka capres atau caleg di Indonesia bisa menggunakan media massa. Warga Indonesia memang tidak begitu banyak pengguna internetnya dibanding media massa. Oleh karena itu, media massa menjadi alat yang lebih efektif jika digunakan caleg untuk mempromosikan idenya. Tentu akan lebih elegan apa yang akan “dijajakan” kepada para pemilih di media massa tidak hanya visi misi tapi juga gagasan dengan media tulisan di media massa. Tulisan akan lebih lama menggema dalam hati para pembaca. Bisa dikaji, diperdebatkan dan direnungkan. Seorang penulis mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Ya, keabadian ide.
Sayangnya, menulis bukan perkara gampang.
Memang tak ada yang bilang bahwa menulis itu gampang. Mungkin hanya seorang Arswendo Atmowiloto saja yang bilang begitu dalam bukunya Mengarang Itu Gampang. Itu juga menulis atau mengarang karya fiksi. Lebih jelasnya, cerpen alias cerita pendek. Karenanya, tidak banyak yang dapat menulis di media massa. Tidak politisi, guru, tokoh agama, mahasiswa, bahkan dosen pada kebakaran jenggot jika mesti menulis di media massa. Meski mereka adalah orang-orang yang dekat dengan dunia tulis menulis namun pada kenyataannya tak banyak yang bisa memunculkan namanya di media massa dengan ide-idenya. Bahkan di kampus saya, ada seorang dosen yang vokal dan mantap kalau bicara namun mengaku kapok mengirimkan tulisannya karena sering ditolak pihak redaksi.
Karena itulah caleg yang bisa atau bahkan biasa menulis di media massa akan mendapat penghargaan atas intelektualitasnya yang tertuang itu. Mereka yang menulis menunjukkan mereka adalah orang yang cerdas sekaligus peka terhadap lingkungannya. Karena semua penulis selalu lahir dari mereka yang bergaul mesra dengan buku dan juga peka dengan lingkungan. Karenanya, mereka akan selalu menghasilkan tulisan yang mengangkat isu-isu yang terjadi di sekeliling, negara, bahkan dunia. Maka, tak ada penulis yang melahirkan karya namun berangkat bukan dari realitas.
Jika kita perhatikan, hanya sedikit saja dari para caleg yang akan maju pada Pemilu mendatang yang aktif menulis (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali). Kalau ada penelitian, mungkin akan lebih banyak caleg yang mengisi pundi-pundi wong cilik dengan fulus dibandingkan dengan gagasan. Karena memang tidak mudah menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan. Lagi pula, membagi-bagikan uang lebih mudah dan cara demikian itu biasanya manjur untuk menggoyahkan pendirian. Walaupun harus cepat-cepat saya tambahi di sini bahwa rakyat hari ini sudah banyak yang melek dengan dunia politik. Sudah banyak yang pintar.
Lalu, bisakah kelangkaan penulis dari para politisi menunjukkan mereka tidak peduli dengan lingkungannya, dengan warganya, dengan kita? Perlu kajian yang mendalam memang untuk menjawabnya. Namun saya percaya bahwa Anda juga telah memiliki jawaban atas pertanyaan tadi.


Artikel ini aku kirim artikel ini 17 Januari 2009 dan diterbitin Radar Banten, 24 Januari 2009 lalu. Alhamdulillah. SMANGET!

Baca Selengkapnya......

Bendera Partai dan Kesemrawutan Itu

Jika Barack Obama gencar melakukan kampanye dengan media ramah lingkungan, juga agak canggih, politisi kita masih menggunakan media konfensional yang hanya menghasilkan sampah; spanduk, stiker, baliho, bendera dan seterusnya yang terkadang tidak mengenal etika dalam pemasangannya.
Cara yang digunakan Barack Obama saat kampanye dengan internet adalah cara yang elegan dan lebih menjaga kelangsungan lingkungan (paling tidak ikut berperan tidak menambah jumlah kubik sampah) di Amerika. Cara ini juga bisa dinilai sebagai gerakan untuk ikut berperan aktif dalam menjaga bumi di tengah isu pemanasan global (global worming) di satu sisi, dan di sisi lain karena angka pengguna internet di Amerika memang cukup besar.
Melalui facebook dan situs dirinya—dibantu oleh sang pemilik Microsoft—Barack Obama mampu meyakinkan pemilih di Amerika Serikat untuk mendukung dirinya. Bahkan ia bisa meraih 50 persen lebih suara dari suara yang ditetapkan. Kegiatan di dunia maya itu tidak terbatas hanya menjaring dan menggalang pendukung tapi juga menggalang dana untuk kampanye wakil dari Partai Demokrat ini.
Sementara di Indonesia, para politisi masih menggunakan cara yang tidak banyak berubah dari semenjak pertama kali diadakan Pemilu di negara ini. Mereka, para politisi itu, dengan cara kampenye sekarang bukan menjaga lingkungan malah mengotori dan merusaknya. Tempat-tempat publik ‘habis’ karena dipaksa menampung berbagai macam atribut partai. Pada akhirnya, apa yang mereka lakukan adalah juga (sengaja atau tidak) merusak pemandangan yang semestinya indah.
Mulai dari yang kecil semisal stiker, sampai baliho yang segede alaihim gambreng menyergap kita. Dan yang tak kalah banyaknya—dari atribut partai politik itu—yaitu bendera partai. Selain pada narsis memajang foto dirinya entah sebagai capres atau caleg di poster-poster, mereka juga memperkenalkan partai barunya atau mempopulerkan lagi partai lamanya. Tiap tempat menjadi sasaran pemasangan atribut ini. Jembatan penyebrangan, rumah, plang pesantren, rambu-rambu lalu lintas, tiang listrik, papan reklame, bild board, pohon, bahkan triple light telah ditumbuhi bendera-bendera partai.
Di sepanjang jalan Sudirman dan Ahmad Yani di Serang, bisa menjadi contoh tempat bagaimana bendera-bendera itu berkibar di semabarang tempat dan berjejal saling menonjolkan diri. Apalagi di perempatan Ciceri, Serang. Rasanya, tak ada jarak satu meter pun yang tidak dipasangi bendera partai. Jika dihitung, saya yakin akan kita dapatkan jumlah yang fantastis. Paling tidak akan terkumpul ratusan bendera. Belum lagi jika ditambah bendera-bendera di jalan Bayangkara, Letnan Jidun, Abdul Hadi, dan seterusnya.
Mungkin hanya tiang atas Asmaul Husna yang terbebas dari bendera partai. Sedangkan di bagian bawah taing Asmaul Husna memang sudah ditempeli bendera. Untung tiang Asmaul Husna belum dikotori bendera-bendera partai yang egois karena tidak memperhatikan keenakan pemandangan itu. Para pemasang bendera itu mungkin tidak sadar apa yang mereka lakukan semakin merusak tata ruang yang sudah semakin tidak sedap dipandang setelah dipasang bild board iklan.
Pada tahap ini, semestinya pihak-pihak pengambil kebijakan di sebuah partai politik mengingatkan para pemasang atribut partai itu untuk juga tetap memperhatikan tempat yang akan dipasangi atribut partai. Mereka yang memasang bendera (secara logika) mestinya orang kecil. Orang suruhan. Kalaupun bukan, berarti ia adalah simpatisan partai. Karena posisi dua mcam orang ini sangat rentan untuk ingin membahagiakan pihak partai, mestinya ada himbauan dari partai terkait tata cara pemasangan atribut partai. Jika yang menghimbau orang partai (apalagi tetingginya) pasti ucapannya akan sangat berpengaruh.
Rasanya tidak mesti kita menunggu penafsiran jalan yang seperti apa yang dimaksud dalam undang-undang sebagai jalan protokol bila hanya ingin mengetahui jalan mana yang tidak boleh dipasangi atribut partai. Begitu juga tidak mesti diberi tahu bila memasang bendera partai di sembarang tempat adalah tidak etis. Atau tak perlu menunggu Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dibantu Satpol PP bertindak tegas dengan mencopot bendera-bendera itu.
Cukup pakai logika dan rasa saja. Mereka yang halus hatinya, mestinya merasakan betapa merusak ruang publik sebagai tindakan yang egois dan tidak etis.

Asmaul Husna
Sepanjang yang saya tahu, hanya ada dua kota di Banten yang jalan rayanya dihiasi Asmaul Husna. Asmaul Husna di Kota Serang dan Tangerang. Sedangkan di Pandegalng dihiasi tiang-tiang hadits. Ini tentu memiliki semangat pesan untuk mengajak masyarakat untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa dan berakhlakul karimah sebagai slogan dua kota di Banten itu. Juga sebagai spirit penegas bahwa Pandeglang memang Kota Santri.
Mestinya, simbol-simbol keagamaan itu tidak hanya dipandang sebagai benda yang mati dan hanya penghias saja. Ia harus ditempatkan pada posisi “sesuatu yang berbicara”. Sehingga setiap kali melewatinya, kita seolah-olah diajak berdialog. Mungkin suatu hari tiang-taing itu akan brbicara kepada kita atau bertanya, “Sudah sholat belum?” Atau ia akan bertanya dan berbicara dengan pembahasan yang lain lagi.
Begitulah semestinya tiang-tiang Asmaul Husna itu diperlakukan. Jika semua masyarakat sudah memegang pemahaman itu, maka tidak ada yang akan memasang atribut-atribut partai dengan sembarangan, membuat kecurangan, atau memakan uang rakyat karena tiap kali melewati tiang-tiang itu, ia sadar bahwa ada Tuhan yang mengawasinya.
Jangan sampai bendera-bendera dia atas nama-nama Tuhan dalam tiang-tiang Asmaul Husna itu menjadi sekedar simbol atau bahkan lelucon atas nama Tuhan yang tidak berpegaruh apa pun kepada mereka yang melihatnya. Pada akhirnya, hanya seperti ketaatan di permukaan namun tidak mendalam.









Baca Selengkapnya......

Jumat, 19 Desember 2008

Lesunya Minat Baca Mahasiswa


Selama saya kuliah, belum pernah saya temui seorang mahasiswa pun berjalan sambil membaca buku di kampus karena saking gemarnya membaca, misalnya. Di depan kelas, kantin, atau pojok-pojok kampus lainnya seperti Unit Kegiatan Mahasiswa, kegiatan membaca tidak terlalu kelihatan. Padahal dunia kampus yang dikenal dengan dunia intelektual, semestinya dekat dengan buku. Ini adalah harga mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi.
Dari pengamatan kecil yang saya lakukan, kegiatan yang lebih menonjol dan mendominasi adalah mahasiswa yang ngobrol, merokok, becanda, nyanyi-nyanyi dan kegiatan fun lainnya di tempat-tempat umum. Padahal saya ingin juga menyaksikan budaya baca yang sangat luar biasa seperti di Jepang terjadi juga di kampus. Saya tak tahu apakah di kampus lain keadaannya berbalik atau malah sama.
Tampaknya, budaya baca mahasiswa berada pada level yang memprihatinkan. ini juga menguatkan survey yang diadakan UNESCO bahwa pringkat membaca kita, Indonesia, berada di bawah negara-negara tetangga kita seperti Malaysia bahkan Vietnam. Mungkin juga beralasan bahwa lesunya membaca ini adalah pemicu sepinya diskusi-diskusi kecil atau publik di kampus. Padahal, menurut mahasiswa yang sudah alumni, kegiatan diskusi adalah kegiatan yang biasa ditemui di setiap sudut kampus ini dulu. Dan sekarang, itu hanya tinggal cerita indah saja.
Sebenarnya, saya juga sempat merasakan pada awal semester ketika masih mahasiswa baru, ada berbagai diskusi baik yang diadakan oleh organisasi intra kampus atau hanya kumpulan mahsiswa-mahasiswa yang peduli dengan budaya diskusi. Dan semakin ke sini, kampus relatif sepi dari kegiatan semacam itu. Memprihatinkan memang.
Jika di dalam kelas, tempat nongkrong, kosan, bis, angkot, atau di halte belum banyak (untuk tidak mengatakan tidak ada) yang membaca buku, baik buku kuliah atau buku-buku di luar perkuliahan, artinya, membaca belum menjadi kebutuhan kedua mahasiswa setelah kebutuhan perut. Padahal membaca bukanlah kegiatan yang istimewa. Membaca memang semestinya menjadi kebutuhan tiap orang yang ingin mengaktualisasikan diri.
Yang berkembang dalam dunia kampus (saya) saat ini adalah para mahasiswa yang lebih mementingkan kebutuhan akan fashion yang menjadi kebutuhan kedua setelah makan. Mahasiswa lebih suka mengeluarkan uang lebih untuk nge-gaya daripada membeli buku (apalagi yang tebal-tebal). Kecuali, mungkin, saat menjelang menggarap skripsi. Ada yang bilang bahwa budaya baca di Indonesia yang memprihatinkan ini karena kita langsung meloncat dari budaya lisan ke gambar (televisi dan film). Sedangkan negara-negara barat melalui budaya baca dulu baru ke gambar.
Bisakah kelangkaan minat baca ini dikorelasikan dengan mengapa mahasiswa saat ini lebih suka menggunakan otot ketimbang otak? Bisa saja. Karena membaca adalah proses mengolah informasi menjadi pengetahuan dan intelektual. Namun ternyata kegiatan membaca tidak berhenti di sana. Proses membaca seharusnya sampai pada titik dimana wisdom akan didapat. Sehingga, mereka yang sudah sampai pada tahap ini, akan lebih bijaksana dalam berbuat. Ia akan lebih mengedepankan otak dan nurani ketimbang kekerasan dalam menghadapi permasalahan hidup.

Menciptakan Iklim Membaca
Meski budaya baca di kalangan mahasiswa memprihatinkan, namun bukan berarti menjadi harga mati sehingga tak dapat diubah. Atau minimal digeser sedikit saja. Karena persoalan membaca meliputi banyak aspek. Ia tak hanya dipengaruhi oleh mahasiswa sebagai individu, namun juga lingkungan ikut berperan dalam rendahnya minat baca itu.
Meski daya beli mahasiswa akan buku tidak setinggi daya beli mereka terhadap pulsa, misalnya, tidak menjadi tolok ukur sebuah budaya baca di kalangan mahasiswa lemah. Banyak juga mahasiswa (saya umpamanya), jarang membeli buku tapi sering mengunjungi dan meminjam buku di Perpustakaan Daerah Serang guna dapat membaca buku. Atau pinjam kepada teman.
Budaya baca akan menjadi kegiatan yang menyenangkan bahkan membanggakan mankala mahasiswa atau siapa pun merasa dengan membaca ia dapat mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan kata lain, membaca harus menjadi kebutuhan seorang mahasiswa. Lalu bagaimana menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan mahasiswa?
Seorang teman yang pernah belajar di Belanda, pernah bercerita tentang gaya mengajar dosen di sana. Dan cara ini, saya rasa cukup efektiv dalam meningkatkan minat baca mahasiswa. Di Belanda sana, kegiatan belajar mesti dimulai oleh mahasiswa dengan pertanyaan: apa yang mau ia ketahui? Dengan kata lain, dosen tidak menyuruh mahasiswa mesti membaca buku ini dan itu padahal sang mahasiswa tidak ingin mengetahuinya atau tidak memiliki minat sama sekali dengan bidang itu. Sehingga, seolah-olah, mahasiswa hanya mengikuti mata kuliah karena memang itulah yang mesti dilaluinya kalau kuliah. Mahsiswa tidak terlibat secara aktif dengan kesadaran sendiri. Dosen tak peduli betul apakah mahsiswa tersebut suka atau tidak.
Dosen di Belanda, menurut teman saya itu, hanya memberi tahu buku apa saja yang mesti dibaca yang relevan dan sesuai dengan masalah yang ingin diketahui mahasiswa. Dengan begitu kegiatan membaca menjadi sesuatu yang menarik dan menggairahkan karena didasari oleh keinginan pribadi untuk mengetahui sesuatu.
Sejatinya, semua mahasiswa membutuhkan membaca. Kongkretnya, saat akan menyusun makalah atau skripsi, mau tak mau ia mesti membaca banyak buku untuk menyusunya. Hanya saja ada beberapa kendala yang menghalangi. Ketersediaan buku-buku baru di perpustakaan salah satunya. Di Banten, agak susah menemukan perpustakaan yang komplit koleksi bukunya, nayaman tempatnya dan dikelola oleh orang-orang yang profesional. Baik di lingkungan kampus maupun di daerah bahkan kota.
Pengunjung perpustakaan akan bosan kalau sebuah perpustakaan hanya memiliki koleksi buku yang itu-itu saja. Padahal setiap tahun banyak buku-buku baru dicetak. Cepat atau lambat, perpustakaan yang tidak selalu membarui koleksinya akan ditinggalkan. Selain pembaruan koleksi buku, perpustakaan juga harus dirancang sedemikian rupa agar nyaman dipakai pengunjung dan betah untuk berlama-lama membaca. Yang banyak ditemui, perpustkaan berada di tempat yang sempit, berdebu dan panas. Nyaman tidak selalu diartikan dengan mewah. Meski tempatnya sederhana, kalau nayaman akan banyak yang betah membaca buku.
Adakan acara-acara seru seperti temu penulis, musik atau kegiatan positif lainnya di perpustakaan. Selain sebagai perangsang bagi mereka yang jarang ke perpustakaan agar terbiasa dengan buku, kegiatan semacam ini juga dapat menjadikan perpustakaan lebih hidup. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca tapi juga berdiskusi dan berekspresi.
Adakah perlombaan resensi buku. Dengan mengadakan perlombaan resensi, maka mau tak mau mahasiswa mesti membaca buku yang harus diresensi. Bahkan ia mesti membaca buku yang semacamnya untuk menambah wawasannya saat akan melakukan resensi. Saat pembagian hadiah, berikan mereka rangsangan untuk kembali membaca dengan menghadiahkan buku-buku terbaru.
Jam buka perpustakaan juga ada baiknya diperpanjang. Tidak hanya dari pagi hingga sore tetapi sampai malam. Ini akan memberikan banyak pilihan kepada mereka yang punya waktu terbatas pada pagi dan siang hari.
Dengan beberapa hal yang mesti dilakukan di atas, mudah-mudahan kegiatan membaca di kalangan mahasiswa akan membaik dan terus menanjak. Semoga.


*Tulisan ini gue krim untuk lomba karya tulis yang diadain Radar Banten dan bekerjasama dengan Perpustakaan Daerah Banten. Alhamdulillah 16 Des 08 tulisan gue terpilih jadi sepuluh artikel terbaik dari 59 mahasiswa yang mengirim dari seluruh kampus di Banten. Gue tinggal konsen buat Sabtu besok wat presentasi. Mudah2an gue menang. Emang dari awal niat gue seh biat dapet komputer jadi bisa bantu ortu.

Baca Selengkapnya......

Senin, 15 Desember 2008

Provinsi Banten dalam Karikatur

Seorang remaja dengan gaya rambut punk, bertindik di hidung dan telinganya, berkalung, berdompet rantai, sedang asyik merokok sambil memainkan handphone. Penampilannya mencerminkan gaya anak muda masa kini di Ibu Kota Jakarta. Namun ia tidak sedang berada di mall, cafe atau tempat nongkrong anak muda lainnya melainkan sedang berada di atas punggung seekor kerbau.
Begitulah Mw Fauzi atau dikenal dengan Si Uzi, seorang kartunis, melihat fenomena “modernisasi” yang terjadi di kalangan anak muda sekarang dan menuangkannya ke dalam bentuk gambar padat yang menggelitik yang disebut karikatur. Dalam karikaturnya, ia membenturkan nilai kemodernan yang semu—yang hanya dimaknai dengan pakaian, makanan, hiburan, dan hal-hal yang berbau kesenangan hidup sesaat—dengan realitas sesungguhnya di mana individu tersebut tumbuh dan berpijak pada buminya.
Sehingga, pemahaman modern yang agak keliru pada remaja di kampung tadi, yang digambarkan dengan mode anak muda saat ini, itu menjadi lucu karena dibenturkan dengan sesuatu yang sangat kontras yaitu kehidupan sesungguhnya anak kampung yang “habitat” aslinya di sawah dan masih suka menggembala kerbau atau kambing. Sesuatu yang sangat jauh dari modern.
Dengan kenyataan semacam itu, saya sebagai penikmat karya Si Uzi tersenyum simpul menertawakan tingkah laku remaja yang sangat kontradiktif itu. Namun di sisi lain saya juga merasa tertikam karena saya juga melakukan hal yang sama dengan tokoh remaja yang digambarkan Si Uzi. Dalam kekocakan, Si Uzi menyelipkan pesan kepada kita.

Tak Cuma Kocak
Namun ternyata tak semua karikatur Si Uzi bernada kocak. Ada juga sebagian yang serius bahkan sangat serius. Seperti gambar Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah yang menghadapi kue ulang tahun bertuliskan Banten yang terdapat liling angka 8 di atasnya. Dan seorang anak berperut buncit yang mengenakan pakaian compang-camping di hadapan Sang Gubernur bilang, “Boleh saya yang meniup dan memintakan harapannya, Bu?”
Gambar berjudul “harapanku” itu menunjukkan bahwa masyarakat Banten masih ada juga (bahkan mungkin banyak) yang hidup dalam kemiskinan. Dan harapan mereka untuk keluar dari kemsikinan itu belum tercapai selama Banten menjadi provinsi. Bahkan sebagian warga di Waringin Kurung beberapa waktu lalu memakan nasi aking karena alasan ekonomi. Meski sudah delapan tahun Banten berdiri sebagai provinsi, namun perubahan ekonomi bagi wong cilik belum bisa dibilang menggembirkan. Maka, Si Uzi nyeletuk dengan tokoh anak kecilnya, “Bolehkah kami (wong cilik ini) yang meminta harapan bagi kehidupan kami? Karena mungkin, salama ini hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki harapan dan ingin harapannya terkabul. Kehidupan seperti apa yang dipinta si anak? Tentu saja kehidupan yang lebih baik dari yang sekarang.
Begitu karikatur-karikatur karya Si Uzi yang dipamerkan dalam acara Ode Kampung 3 di Rumah Dunia 05-07 Desember 2008 lalu. Pameran bertema “Pameran Delapan Tahun Provinsi Banten” ini berbicara tentang banyak hal soal Banten.
Dari sekian banyak karikatur yang menyoroti berbagai permasalahan di Banten, ada yang bernada jenaka seperti watak asli kartun, namun ada banyak juga yang bernada agak pedas yang dimaksudkan sebagai “jeweran” bagi pihak-pihak yang dianggap belum melaksanakan kerjanya dengan baik dan benar selama ini.
Selain masalah gaya hidup yang diangkat ke dalam karya-karyanya, Si Uzi juga mengangkat isu-isu politik, ekonomi dan sosial seperti kelangkaan BBM, bantuan langsung tunai (BLT), beras miskin, nasi aking, Dana Perumahan 3, pejabat yang malah belanja di luar negeri padahal seharusnya studi banding, premanisme, pungutan liar, bahkan olah raga dll.

Membaca Sejarah
Sebagai seorang pemimpin redaksi di salah satu koran lokal di Banten, Si Uzi mendapatkan masukan informasi yang sangat kaya akan Banten terutama isu-isu aktual. Dengan modal informasi yang melimpah ruah itu, ia bisa mengetahui banyak hal tentang peristiwa yang terjadi di daerah kesultanan ini. Dan pengetahuan itulah yang kemudian ditransformasikannya ke dalam bentuk karikatur. Gambar-gambar ini kadang-kadang agak susah dipahami maksudnya jika yang melihat tidak banyak memiliki pengetahuan akan kasus atau peristiwa yang terjadi yang kemudian diangkat sebagai ide dasar dalam pembuatan karikatur tersebut.
Sebagaimana sifat lahiriah sebuah karya karikatur, ia menampilkan peristiwa dengan deskripsi yang terbatas. Dengan keterbatasannya itu, karikatur dituntut ringkas dan padat. Namun dalam keterbatasaannya pula, karikatur ternyata mampu menjadi media kritik dan sekaligus penghibur dalam waktu yang bersamaan. Dan modal yang mesti dimiliki oleh seorang karikaturis agar karyanya tidak membosankan, salah satunya, saya kira adalah humoris. Dan Si Uzi telah memiliki modal ini.
Karikatur-karikatur yang dipamerkan dalam “Pameran Delapan Tahun Provinsi Banten” ini dijual untuk umum. Harga perkarikatur beragam. Namun semuanya hanya berkisar 500-600 ribu saja.
Seperti karikatur tentang seorang pasien yang terbaring di kasur (yang menggambarkan Perserang) dan kaget karena selang infus (APBD) miliknya putus, yang dibandrol dengan harga 600 ribu, karikatur dengan judul “ritual masak” hanya berharga 500 ribu.
Melihat sejumlah karikatur Si Uzi, kita seperti membaca buku sejarah Banten selama delapan tahun yang ditulis dengan apik dan menarik. Dan kita tahu, setelah membaca buku itu, bahwa selama delapan tahun pembangunan Banten belum juga menunjukkan ke arah kesejahteraan bagi masyarakat Banten. Padahal Banten pernah menjadi tempat yang sangat makmur bagi penduduknya saat Sultan yang memimpin bersifat amanah pada jabatan yang dibebankan kepadanya. Tidak korup dan tidak membodohi rakyatnya. Saat itu, saat Banten menjadi pusat perdagangan internasional dulu.

Tulisan ini saya kirim ke Radar Banten tapi langsung dapet konfirmasi dari RB. Katanya: tulisan Anda sudah tidak up to date! karena waktu ulang tahun Banten sudah lama lewat. padahal kan tulisan ini bukan menyoroti ke itunya, walaupun ada juga seh nyerempet2. ya udah deh akhirnya gue kirim lagi ke Banten Raya post, Jumat, 12 Desember 2008 kemaren. dan hari ini, 15 Desember 2008, kata Mas Gong, tulisan hue masuk Baraya. cihuuuuuyyyyy!hehe...
Tulisan ini juga dipublikasiin di situs www.rumahdunia.net di rubrik Cakrawala. Hmmm...

Baca Selengkapnya......