Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 14 Juni 2015

Ide Cerdas Ayah

Ide Cerdas Ayah

Oleh Gading Tirta

Dodo berbalik arah sebelum sampai ke warung Pak Wani. Padahal jaraknya sudah dekat. Ia tak jadi belanja di warung itu. Ada yang mengganggunya. Ia lupa apa saja yang mesti ia beli. Padahal sewaktu akan berangkat ibu sudah dengan jelas menyebutkan apa saja yang mesti dibeli.

Sebenarnya Dodo ingat beberapa barang yang dipesan ibu seperti gula putih dan terigu tapi ia lupa berapa kilogram barang-barang itu mesti ia beli. Kalau ia membeli dengan asal saja ia takut uang yang diberikan tidak cukup untuk membeli yang lainnya.

Kejadian seperti ini sering dialami Dodo. Sebabnya, ia suka tidak kenal waktu kalau sudah ketemu teman-temannya di jalan lalu ngobrol. Dan Dodo pun tahu, ini karena kebiasaan jeleknya. Anehnya, kebiasaan jelek ini susah dihilangkan. Dodo suka tidak enak jika ada temannya yang menegur kalau tak ia jawab. Dan jawaban itu akhirnya memanjang menjadi obrolan ke sana ke mari. Kadang-kadang membicarakan tentang mainan baru, film kartun, atau apa saja. Makanya, setelah ngobrol ia lupa semua daftar belanjaan ibunya.

Saat akan masuk rumah, Dodo melangkah dengan ragu. Perasaannya tidak enak karena ia tidak bisa membantu ibu untuk membeli kebutuhan dapur. Padahal mungkin bahan-bahan belanjaan itu sangat dinanti ibu untuk segera dibuat makanan atau minuman.

“Mana belanjaannya, Do?” tanya ibu saat Dodo masuk rumah. Dodo hanya diam. Ia sangat malu karena tidak bisa diandalkan. Ia malu karena sering lupa dengan belanjaan yang disusruh ibu.

“Kok nggak bawa apa-apa?” tanya ibu lagi. “Kamu lupa lagi, ya?”

Dodo hanya mengangguk malu. Kali ini, ibu pasti marah, katanya dalam hati.

Tapi ibu Dodo tidak marah. Ia tersenyum. “Ya, sudah kalau lupa. Sekarang ibu kasih tahu lagi belanjaan yang mesti kamu beli, ya.” Lalu ibu menyebutkan belanjaan itu. Dodo senang karena masih dipercaya. Ia berjanji tidak akan ngobrol sebelum belanjaan dibeli.

***

Ibu dan ayah terlihat serius ngobrol di ruang tamu. Saat Dodo pulang dari sekolah, ia tanpa sengaja mendengar obrolan ayah dan ibunya. Ia mendengar namanya disebut-sebut. Ia juga mendengar tentang kebiasaan lupanya dari obrolan itu.

“Asaalamualaikum,” ujar Dodo setelah membuka pintu.

“Waalaiukumsalam. Udah pulang, Do?” tanya ibu.

Dodo tersenyum. “Dodo laper nih, Bu.”

“Ya, sudah ganti baju dulu nanti kita makan bersama. Kebetulam ayah tadi pulang lebih awal dari kantor.”

“Kata ibu, Dodo sering lupa, ya kalau disuruh belanja?” tanya ayah sewaktu mereka makan bersama.

“Iya, Yah.” Jawab Dodo sambil tersipu malu. Ooo... Dodo baru sadar. Berarti yang tadi ayah bicarakan dengan ibu itu tentang kebiasaan buruknya yang suka lupa.

“Ayah punya ide cerdas buat kamu supaya tidak lupa lagi,” kata ayah.

Mata Dodo langsung bersinar. “Yang bener, Yah?” tanya Dodo antusias.

“Iya.”

“Apa, Yah idenya?” Dodo tidak sabar lagi mendengar ide yang akan ayah katakan. Dengan ide itu, ia tidak akan lupa lagi. Hmmmmm.... ide apa, ya? Dodo bertanya-tanya dalam hati.

“Kamu tulis saja daftar belanjaan yang ibu minta di kertas. Itu caranya,” jelas ayah.

Ayah melihat Dodo masih terlihat bingung sewaktu mendengar ide cerdas itu. Cuma begitu caranya? Mungkin itu yang akan Dodo katakan. Ayah langsung menjelaskan fungsi kertas itu ke Dodo supaya lebih jelas.

“Begini, Do maksud ayah. Kalau belanjaan itu sudah kamu tulis di kertas, kamu mau ngobrol dulu dengan temanmu juga tidak akan lupa. Kan belanjaannya sudah ditulis. Kamu tinggal membacanya saja sewaktu di warung. Ya, kan?”

Dodo baru mengerti. Ia tersenyum gembira. Iya juga, ya, batinnya. Kenapa cara itu tidak pernah terpikirkan olehnya.

Setelah acara makan siang selesai, Dodo bertanya ke ibu,

“Ada yang mau dibeli nggak, Bu? Kali ini Dodo nggak akan lupa,” kata Dodo sambil tersenyum penuh percaya diri.

Ibu tersenyum melihat Dodo yang semangat. Lalu ibu menyebutkan belanjaan untuk hari ini. Sementara Dodo sibuk menuliskan belanjaan ibu di kertas. Setelah selesai, Dodo langsung ke warung Pak Wani. Ia tidak perlu lagi khawatir lupa dengan belanjaan yang harus dibelinya. Ia bisa ngobrol kalau ketemu teman. Tapi tentu jangan lama-lama, seperti nasihat ayah. Takut ibu menunggu belanjaan itu untuk segera dimasak.

Sejak saat itu, Dodo tidak lagi lupa walaupun belanjaan ibu banyak sekali. Dodo semakin semangat membantu ibu belanja di warung.

Terima kasih, ayah, Ibu, kata Dodo dalam hati.

Baca Selengkapnya......

Yang Terlupakan

Karim mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Dalam pikirannya berkelebat kekhawatiran dengan apa yang dilakukannya saat ini, menemui adiknya yang telah lama dilupakan. Adiknya telah mempermalukan keluarga serta mencoreng nama baik yang selama ini telah terukir indah di antara orang-orang kampung. Meski demikian, tetap saja ia bulatkan tekadnya.
Terminal Pakupatan telah tertinggal jauh di belakang. Saat melewati daerah Ciceri, Karim kembali teringat ucapan bapakya tujuh bulan lalu.
Sampai kapan pun saya tidak akan menengok anak sialan itu! bapak begitu berang setelah menerima kabar dari Karim tentang Romli, adiknya yang baru divonis penjara. Kalian juga jangan sampai menjenguknya. Bapak mengarahkan telunjuknya ke arah ibu dan Karim.
Sejak Romli tertangkap polisi, kontan bapaknya tak pernah mau lagi peduli. Tak sudi lagi mendengar namanya. Anak yang hanya bisa buat malu keluarga!
Ibu hanya bisa menangis mendengar keputusan bapak. Karim memeluk ibu, coba menenangkannya.
Jika ada yang menengoknya, maka tak ada bedanya dengan anak durhaka itu!
Karim mengerti perasaan bapaknya. Seseorang yang sangat disegani di kampung tentu malu memunyai anak, seperti Romli. Ada-ada saja yang dilakukannya untuk membuat onar. Berkelahi, mencuri, memalak, mabuk-mabukan bahkan kasus terakhirnya meniduri anak orang. Dan kasus inilah yang menariknya ke bui.
***
Karim sudah sampai di gerbang penjara. Bangunan itu terlihat sangat kokoh. Gaya bangunannya masih seperti saat didirikan pertama kali pada zaman Belanda. Dindingnya begitu kokoh, sekeras kehidupan di dalamnya. Menancapkan paku ke temboknya untuk menggantungkan baju pun rasanya mustahil dilakukan saking kerasnya.
Pintu besi adalah yang pertama menyambut Karim. Ada sebuah lubang di pintu besi itu. Karim mendorong lubang yang tertutup dengan besi tadi. Dari bolongan tersebut terlihat seorang petugas penjaga penjara. Ia mengatakan kepada penjaga bahwa ia ingin masuk.
Beberapa saat kemudian suara gembok ditarik terdengar keras. Pintu terbuka perlahan. Tampak seorang petugas penjara berseragam cokelat berdiri di belakang gerbang. Tak ada senyum di wajahnya. Padahal Karim sudah menyambutnya dengan senyum.
Ia menunjukkan agar Karim menuju ke sebuah ruangan dekat gebang. Di ruangan yang cukup luas tersebut ada sebuah meja dan kursi. Ada seorang petugas duduk di sana. Dari tempat duduk petugas itu keadaan penghuni bisa terlihat dari jeruji tembok.
Dari mana?
Suka Jadi, Pak.
Mau menjenguk siapa?
Romli, Pak.
Saudaranya?
Karim mengagguk mengiyakan meski pun dalam hati sempat hinggap malu mengaku memunyai saudara yang ditahan di penjara namun segera dibuangnya.
Baru pertama kali ke sini?
Sekali lagi Karim mengangguk.
Bisa lihat KTP-nya?
Karim mengambil dompet dari saku belakang celananya. Mengeluarkan KTP dari dalam dompet, kemudian menyerahkannya kepada petugas yang sedang duduk di hadapannya.
Penjaga membacanya sejenak, lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas sambil sesekali melihat KTP Karim. Ketika petugas sibuk dengan aktivitasnya, Karim bangkit dari kursi menuju bui. Petugas tadi hanya memandang Karim sekali. Lalu kembali tenggelam dengan pekerjaannya.
Karim mengalihkan pandangan pada jeruji-jeruji ruangan tersebut. Ia dapat melihat para tahanan dengan jelas. Nampak olehnya masing-masing tahanan sibuk dengan kegiatannya, ada yang menyapu, duduk-duduk, ngobrol, menempelkan tubuh ke jeruji, namun lebih didominasi mereka yang asyik menonton para petugas penjara yang sedang bermain bulu tangkis.
Sesuatu yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang di luar mungkin dianggap menarik oleh orang-orang di sini, Karim membatin. Matanya berjalan ke sana kemari berusaha mencari orang yang akan ia jenguk. Namun setelah semua tempat yang ia pandang habis, Karim tetap tidak mendapatkan apa yang dicari.
Seorang tahanan mendekati Karim. Karim mengetahui kalau yang mendekatinya adalah seorang tahanan. Mudah saja ia menyimpulkan: dari kaos yang dikenakan sama dengan mayoritas tahanan. Kaos yang dikenakan berwarna biru dan memiliki nomor di bagian dada kanan. Walau tahanan, penampilannya lumayan rapih. Dengan kaos dimasukkan ke dalam celana jeans biru yang dilingkari dengan ikat pinggang, ia lebih mirip body guard ketimbang tahanan. Badannya terbentuk seperi atlet. Dia bertanya dari sebelah jeruji siapa yang akan Karim temui.
Romli.
Tahanan itu tampak bingung. Sepertinya dia tidak kenal dengan nama itu.
Udin. Karim langsung menambahkan. Berharap nama tersebut akan membantu laki-laki di hadapannya. Kalau di desa biasa dipanggil Udin.
Romli... Udin..., gumamnya. Kasus apa?
Karim tak menjawab. Malu mengatakan tentang kasus yang menjerat Romli ke tempat ini.
Tidak. Tidak. Aku tidak akan memberitahukannya. Jangankan mengucapkannya, mendengarnya saja aku sudah malu, batin Karim.
Petugas sudah selesai menulis. Ia memanggil tahanan yang berbincang-bincang dengan Karim tadi.
Ke sini, Dul. Napi bernama Dulman mendekati petugas setelah melewati pintu gerbang tengah. Dulman diberi kertas yang tadi dipegang petugas.
Tahanan pindahan ya?
Iya, Pak.
Coba kamu cari di sel lima. Perintah petugas pada Dulman.
Sebelum ke penjara ini, sudah dua penjara yang didatangi Karim. Petugas penjara pertama mengatakan Romli sudah dipindahkan. Dan dari penjara kedua yang didatanginya ia tahu bahwa Romli berada di sini. Terbersit rasa penyesalan, mengapa tak pernah muncul keberanian dalam dirinya selama ini. Ia merasa orang yang paling tega membiarkan adiknya dalam penjara tanpa pernah ditengok sekali saja. Ia menyesal terlalu mematuhi bapaknya yang sejak semula sudah ia nilai salah.
Karim kembali memperhatikan para napi yang saling sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak beberapa lama kemudian, Dulman sudah membawa seorang laki-laki. Ia adalah Romli. Badannya nampak sedikit kurus. Kepalanya gundul.
Dengan dihalangi jeruji, mereka saling tatap. Tangan Romli menerobos jeruji, menjabat tangan kakaknya.
Apa kabar Karim? tanyanya. Dari dulu Romli tak pernah memanggil kakak. Umur mereka hanya selisih satu tahun.
Baik.
Ada genangan air yang mulai keluar dari sudut mata Romli. Ia terharu dengan kedatangan Karim. Pertemuan yang tak pernah ia duga. Sebenarnya, selama tujuh bulan di penjara dan tak pernah ada satu pun yang menjenguknya, Romli sudah dapat menyimpulkan bahwa keluarganya sudah tidak mengakuinya. Ia benar-benar sendiri. Bagai anak hilang saja. Namun setelah kedatangan Karim, ada harapan untuk kembali ke keluarga yang disadarinya kini sebagai tempat berteduh.
Sebelum ke ruang besuk, bayar uang kebersihan dulu, kata petugas. Ia tidak menyebutkan berapa. Karim bingung harus memberi uang berapa. Namun saat Karim memberikan uang lima ribu, petugas penjara menerima dan tidak protes karena kurang.
Ruang besuk di penjara ini sama seperti ruangan pertama tadi. Hanya saja selain petugas dengan kursi dan mejanya, di ruangan ini juga terdapat kursi panjang berbentuk huruf n. Romli duduk di bangku sebelah kanan. Ada seorang tahanan yang sedang dijenguk ibunya. Mereka duduk di kursi samping kiri berhadapan dengan Romli.
Terima kasih sudah datang menjenguk. Suaranya parau. Tenggorokannya tercekat.
Karim mengeluarkan dua bungkus rokok, makanan ringan, air minum botol besar serta sebuah bungkusan. Romli dengan gerakan cepat langsung menyembunyikan sebungkus rokok ke dalam celana. Ia selipkan sehingga terhimpit karet celana kolornya.
Karim melirihkan suaranya seolah banyak orang sedang menguping pembicaraan mereka. Satu bungkus saja yang dikeluarkan. Kalau ketahuan bisa berabe. Banyak yang malak! Di sini, merokok sehari satu batang saja sudah termasuk warga elit. Kebanyakan dari kami merokok puntungan. Romli tersenyum getir mengenang.
Bagaimana kabar ibu-bapak? Romli membuka percakapan sambil membuka sebungkus rokok.
Mereka semua baik. Bahkan kedatanganku ini atas kesepakatan bersama. Romli tersentak kaget tak percaya mendengar kata-kata tadi. Benarkah demikian? batinnya masih meragu. Bukankah mereka sejak dulu membenci anaknya yang tidak tahu malu ini? Anak yang membalas air susu dengan air tuba!
Bukankah mereka membenciku?
Karim diam. Dengan hati-hati, ia menjelaskan. Itu dulu. Sebenarnya sudah sejak dulu aku ingin datang menjenguk tapi aku takut pada Bapak. Kau tahu, ia sangat terpukul. Baru kemarin aku berani ngomong kepada Bapak kalau semua orang bisa saja melakukan kesalahan. Dan sepertinya Bapak pun meyadari kekhilafannya setelah aku jelaskan. Ya... meskipun untuk itu membutuhkan waktu tujuh bulan. Maafkan kami. Selama itu kami tidak pernah menemuimu.
Ah tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkannya. Terus terang, lebih baik tak ada yang menemuiku. Aku malu jika melihat kalian. Dan aku yakin kalian juga malu melihatku.
Sudahlah. Kami sadar tak ada orang yang tak pernah berbuat salah. Kami sudah bisa menerimamu.
Air mata Romli kembali menetes. Haru berterbangan di ruang besuk. Lama mereka bertukar cerita. Dulman memasuki ruang besuk. Ia duduk di bangku. Romli mengerti maksud kedatangan teman tahanannya. Ia sodorkan sebungkus rokok yang sudah ia buka. Dulman mengambil satu batang. Setelah menyulutnya dengan api, Dulman mendekati tahanan di depan Romli yang masih asyik ngobrol dengan ibunya.
Minta jeruk ya? katanya langsung menyusupkan tangan ke dalam kantong plastik tanpa mempedulikan apakah yang diminta setuju apa tidak. Ia mengambil lima buah jeruk dari dalam kantong plastik itu. Sekalian Ekstra Joss-nya ya? Tahanan di hadapan Romli hanya diam. Begitu pula dengan ibunya.
Dulman memberikan dua buah jeruk jarahannya kepada petugas ruang besuk. Satu lagi ia kasih kepada temannya di luar.
Karim menggelengkan kepala melihat kelakuan Dulman.
Alhamdulillah di sini aku mulai rajin sholat. Ramadhan kemarin juga aku berpuasa penuh, satu bulan. Aku merasakan kedamaian di sini. Romli mencoba mengalihkan konsentrasi Karim.
Syukurlah kalau begitu. Aku bawakan pakaian untukmu. Tangannya memegang bungkusan yang tergeletak di antara mereka.
Terima kasih.
Karim mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang dalam perjalanan pulang. Ada kekhawatiran di hatinya. Bagaimana jika Romli mengetahui yang sebenarnya—bahwa keluarganya masih belum bisa memaafkannya bahkan mungkin tidak akan pernah memaafkannya.

Serang, 23 Februari 2007
cerpen ini diterbitkan di koran harian Radar Banten edisi Kamis, 19-April-2007

Baca Selengkapnya......

Jumat, 09 April 2010

Memancing



Pancing keren dijual di toko Ratu Pancing yang ada di Simpang Tiga Kota Cilegon, depan masjid Al Hadid. Tampak seorang petugas toko, Jamal, sedang merapihak peralatan pancing.
Menurut Jamal, alat-alat pancing biasanya akan terjual ramai ketika akhir pekan. Harga pancing variatif mulai dari puluhan ribu sampai jutaan.
Gambar diambil Jumat (9/4/2010).

Baca Selengkapnya......

Rabu, 07 April 2010

Keren




Ini foto keren. Gue jepret waktu liputan demo pendukung Ali Mujahidin (Mumu), salah satu calon Walikota Cilegon tahun 2010-2015 di depan kantor Panwaslukada Cilegon, di Cibeber.
Setelah gontok-gontokan dan dijaga ketat oleh aparat, para demonstran ini akhirnya bersalaman meminta maaf kepada para polisi.
Hmmmm.... keren banget.
Begini nih aksi yang bener mah ^_^

Baca Selengkapnya......

Senin, 29 Maret 2010

Lukisan



Ini waktu gue mau ngetik di kantor dan ketemu temen, seorang
fototgrafer, di sanggar lukisan.
Dia meminta gue jadi model buat foronya tentang lukisan
karena tukang lukisannya nggak mau difoto hehehe
Lokasi: Cibeber, Cilegon
Waktu: Minggu 28 Maret 2010




Baca Selengkapnya......

Kamis, 24 Desember 2009

Tantangan Bagi Para Jurnalis


sumber gambar: http://foto6b.detik.com/images/content/2008/11/12/157/jurnalis6.jpg
Kepada siapa media massa mesti berpihak? Apakah independen yang sering didengungkan media massa sebagai tidak berpihak kepada siapa pun berarti tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun?
Sesungguhnya tidak ada media massa yang benar-benar independen dalam artian tidak memihak apa pun atau siapa pun. Media massa mesti berpihak. Pertanyaannya adalah kepada siapa media massa mesti berpihak? Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang memperkenalkan sembilan elemen jurnalisme, media mesti berpihak pada masyarakat (baca: rakyat). Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.
Berhubungan dengan keberpihakan media massa kepada masyarakat inilah media massa melalui para jurnalisnya mesti mengungkap tuntas apa sebenarnya yang terjadi pada kasus Cicak-Buaya. Apa yang melatarbelakangi? Adakah hubungannya dengan Bank Century? Siapa pemain di balik konflik ini? Dan seterusnya.

Tantangan
Mesti kita akui dan beri penghargaan kepada media massa yang selama ini sudah menayangkan banyak informasi tentang perseteruan Cicak-Buaya. Terutama saat menayangkan/ memuat rekaman penyadapan terhadap Anggodo Widjojo yang diduga melakukan kriminalisasi KPK dan berupaya membunuh Bibit Samad Rianto.
Namun, hendaknya media massa tidak puas sampai di situ. Masyarakat masih terlalu kabur dalam kasus ini. Mozaik-mozaik masih banyak yang belum terkumpul. Pihak yang benar dan salah belum terlihat jelas. Masih menduga-duga saja. Karena dugaan-dugaan inilah suara masyarakat yang mengikuti kasus Cicak-Buaya (secara kasar) terbelah menjadi dua: yang mendukung KPK sedangkan sisanya mendukung Polri. Jika tidak segera diungkap, penulis khawatir perbedaan dukungan ini akan semakin memperuncing gap antar masyarakat.
Media massa hendaknya tidak gentar memberitakan atau malah mengungkap habis “rahasia” polemik Cicak-Buaya ini. Semua masyarakat mendukung usaha ke arah sana. Jangan sampai juga pemanggilan dua Redaktur Pelaksana koran harian (Kompas dan Seputar Indonesia) oleh Polri menyurutkan yang lain dalam pemberitaan karena Undang-Undang Dasar 45 menjamin setiap warga negara dalam mendapatkan dan mengolah informasi. Dan sebagai negara yang demokrasi tentunya kebebasan pers mesti dikedepankan. Karena (meminjam kata-kata Andreas Harsono) semakin berkualitas jurnalisme di suatu masyarakat, maka kehidupan mereka pun semakin berkualitas.
Momen kaburnya penglihatan kita akan perseteruan Cicak-Buaya ini justru mesti menjadi tantangan bagi para jurnalis atau wartawan untuk meningkatkan liputan dari straight news (hard news) atau feature menjadi liputan mendalam, indepth reporting, bahkan investigasi.

Liputan investigasi
Liputan investigasi (untuk sementara ini) adalah liputan paling bergengsi dan puncak dalam karir seorang jurnalis. Bukan saja mesti membutuhkan waktu yang relatif lama, tapi juga mesti teliti, sabar, dan ulet. Terus melakukan verifikasi, wawancara dengan banyak orang, menggali data, sampai mendapatkan titik terang.
Seorang jurnalis investigasi mesti memiliki kemampuan di atas rata-rata jurnalis selain keberanian. Ia mesti pandai dalam masalah hukum seperti hakim, mesti lebih bisa menjaga rahasia ketimbang intelelenjen, mesti lebih lihai dari pencuri (dalam menggali dokumen rahasia), mesti lebih bisa mengendus pelanggaran dan kejahatan yang terjadi ketimbang polisi. Modal-modal inilah yang mesti dimiliki jurnalis yang akan terjun ke “rimba kasus” Cicak-Buaya.
Setelah itu jurnalis investigasi akan berurusan dengan pihak-pihak yang merasa terlibat dan terpojokkan dengan adanya kasus Cicak-Buaya, yang biasanya menggunakan pasal karet pencemaran nama baik. Namun, penulis yakin bahwa dampak liputan yang dihasilkan akan jauh lebih memberi manfaat. Dan penulis yakin akan banyak masyarakat—bisa melalui turun ke jalan atau melalui facebook—yang akan mendukung media massa seperti halnya dukungan mereka kepada KPK.

Sejarah emas
Keuntungan yang akan didapat jurnalis investigasi jika bisa membongkar fakta mendalam dalam kisruh Cicak-Buaya adalah ia akan mencatat sejarah jurnalisme Indonesia dengan tinta emas. Sejarah jurnalisme Amerika Serikat bisa menjadi pelajaran bagaimana kebusukan pemerintah bisa dibeberkan oleh dua orang jurnalis handal yang kemudian bisa mewakili rasa keadilan masyarakat Amerika. Dua reporter Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein bekerja keras saat menguak kasus skandal Watergate yang ternyata melibatkan Presiden Amerika Richard Nixon.
Atau seperti seorang jurnalis handal Bondan Winarno yang menguak kasus penipuan oleh Michael de Guzman, Manajer Eksplorasi PT Bre X Corp, seputar emas di Busang, Kalimantan Timur.
Sebelum terkenal sebagai pembawa acara wisata kuliner dengan slogan khas “maknyus”, Bondan telah meletakkan dasar bagaimana menguak penipuan Michael de Guzman dengan deskripsi yang menarik dan data yang sangat kaya. Dalam laporan investigasinya—yang kemudian dibukukan dengan judul; Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi—Bondan mengungkapkan penipuan yang dilakukan Michael de Guzman yang dianggap banyak orang bunuh diri karena lompat dari helikopter. Padahal itu hanya usaha untuk mengelabui.
Bondan telah mengungkap kasus penipuan besar, walaupun setelah laporan itu terbit, Bondan dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Majalah Tempo termasuk media massa yang beberapa kali mengungkapkan kasus-kasus lewat laporan investigasi seperti laporan tentang PLN, bisnis gelap aborsi di Jakarta, atau juga tentang liputan investigasi lainnya.
Apa yang ditunggu dan diharapkan masyarakat tentang kisruh Cicak-Buaya hanyalah duduk permasalahan yang terjadi di negeri ini dan mengetahui apa sesunggunya yang terjadi. Jika ada yang bersalah maka siapa yang bersalah, siapa yang mesti dihukum, apakah ada hubungan yang positif antara perseteruan Cicak-Buaya ini dengan Bank Century, dan seterusnya.
Kalau ada jurnalis atau media massa yang berhasil mengungkap kasus Cicak-Buaya, maka tentu masyarakat akan sangat senang karena rasa keadilan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan demikian juga pers telah melakukan tugasnya sebagai pemantau kekuasaan.
Di tengah serba ketidakpastian dan mengendurnya kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum dan pemerintah, hanya pers yang bisa dijadikan sandaran oleh masyarakat.
Kita berharap ada jurnalis yang bisa mengungkapkan misteri di balik kasus yang mendapat sorotan dari berbagai pihak ini. Dengan begitu, Indonesia bukan hanya dikenal sebagai negara yang banyak masalah dan bencana tapi juga bisa harum karena dapat mengungkapkan kejahatan yang ditutup-tutupi. Ini bisa menjadi pelajaran bagi pers di dunia khususnya Asia. Dan harapan Indonesai menjadi lebih baik semoga akan cepat terwujud. Semoga.

Baca Selengkapnya......

Pelajaran Bagi MUI


sumber gambar:http://afandri81.files.wordpress.com/2009/02/label-mui.jpg
Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Malang menelurkan fatwa. Yang dipermasalahkan adalah kreasi Sutradara asal Jerman, Roland Emmerich, yang memproduksi film “2012”. Sebuah film yang menggambarkan tentang kiamat yang akan terjadi pada 2012. Dalam fatwa itu, MUI melarang umat Islam menonton film 2012 karena dianggap telah mendahului ketentuan Allah dalam menetapkan kiamat.

Apakah fatwa yang dikeluarkan MUI memberi efek pada masyarakat? Jawabannya, ya! Tapi senangkah MUI dengan efek yang ditimbulkan? Mungkin tidak. Kenapa? Karena efek yang ditimbulkan dari fatwa itu tidak seperti yang diharapkan. Efeknya malah berbalik 180 derajat dari yang dimaksud MUI. Ibarat pepatah, jauh panggang dari api.

MUI mengharapkan dengan pelarangan itu masyarakat tidak akan menonton film yang terinspirasi dari kalender suku Maya itu, eh, masyarakat malah “membangkang”. Mereka “tertantang” oleh fatwa yang dikeluarkan MUI dan berbondong-bondong antri memasuki bioskop, tempat yang sebelumnya juga dilarang oleh beberapa pemuka agama karena dianggap sebagai tempat maksiat. Karena itulah film 2012 menjadi film terlaris di seluruh dunia termasuk di Indonesia saat ini.

Dalam tulisan ini penulis mencoba memberikan beberapa masukan bagi MUI yang bisa menjadi pelajaran bersama.


Belajar dari sejarah

Salahkah MUI mengeluarkan fatwa? Mungkin tidak. Hanya saja, sepertinya MUI belum mau belajar dari pengalaman sendiri. Padahal belajar dari pengalaman inilah yang salah satunya ditekankan oleh agama Islam.

Ini bisa disimpulkan dari banyaknya cerita-cerita kaum-kaum masa lalu dalam al-Quran. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sebagian besar isi al-Quran adalah kisah bukan hukum. Oleh karena itu, kisah-kisah nabi dan orang-orang sholeh mesti menjadi teladan sedangkan kisah umat-umat terdahulu yang durhaka dan membangkang mesti (juga) dijadikan pelajaran bagaimana tidak mencontohnya agar ke depan kita bisa lebih baik.

Dan berbicara pelajaran untuk MUI, mestinya MUI belajar dari fatwa-fatwanya yang lalu. Mulai dari fatwa mengenai merokok, debus atau yang lainnya.

MUI juga hendaknya belajar dari kasus penyanyi dangdut Inul Daratista yang mendapat cekalan dan larangan yang justru kemudian terbukti semakin meroketkan nama penyanyi asal Pasuruan yang berkarir dari panggung ke panggung itu bukan malah membangkrutkannya.


Siapa yang salah

Entah siapa yang salah. Atau mungkin sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini. MUI sebagai “prisai” umat sebetulnya sudah berbuat maksimal dan sudah melakukan hal yang benar. Dalam bahasa agama, MUI telah berijtihad. Keinginan MUI tidak neko-neko: hanya ingin menjaga umat agar tidak melewati batas yang ditolelir agama.

Namun sepertinya sudah menjadi naluri manusia bahwa semakin dilarang semakin menantang dan semakin besar rasa ingin tahu terhadap yang dilarang itu. Semakin penasaran.

Manusia sebagai makhluk yang bebas memang paling tidak tahan pada pelarangan. Baik pelarangan secara fisik maupun psikis. Seperti sebuah bola yang semakin ditekan ke dalam air maka ia akan lebih tinggi meloncat. Dugaan ini dikuatkan oleh beberapa kasus yang sempat menjadi sorotan lantaran mendapatkan pelarangan, salah satunya kasus Inul tadi.

Kalau saja tidak ada pelarangan dari Sang Raja Dangdut, Inul mungkin tidak akan sekondang seperti ini. Dan mungkin tidak akan banyak orang yang menonton goyangan ngebornya yang dianggap erotis dan merusak akhlak itu. Kalau saja tidak ada larangan MUI terhadap film 2012 mungkin tidak akan banyak yang menontonnya.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah kesadaran umat tentang pentingnya mendengarkan ulama semakin menipis? Atau umat malah sudah tidak percaya dengan ulama? Atau umat sudah semakin jauh dari ajaran agama? Atau karena status fatwa MUI hanya sebagai anjuran kemudian banyak yang menyepelekan? Rasanya perlu penelitian yang mendalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Mungkin, ada baiknya MUI mesti mencari jalan lain agar bagaimana fatwa yang dikeluarkan tidak hanya dipatuhi sang pembuat fatwa tetapi juga bisa menggugah kesadaran umat agar mengikutinya. Seperti fatwa-fatwa yang dihasilkan imam-imam terdahulu yang sampai sekarang masih tetap dipegang teguh terutama bagi mereka yang pernah mendapat pendidikan pesantren.

Kembali ke laptop! Eh maksudnya kembali ke masalah fatwa film 2012.

MUI benar jika mengatakan bahwa film 2012 adalah “sesat” karena mendahului ketentuan Tuhan. Tidak ada umat yang ragu kiamat adalah rahasia Tuhan semata. Hanya Dia yang tahu soal yang gaib itu. Jadi, agak mubadzir jika fatwa untuk mempercayai kebenaran film 2012 itu dikeluarkan.

Saya rasa umat sudah pada pintar. Jadi, fatwa juga mestinya menyesuaikan dengan hal itu.

Wallahua’lam bi al-showab!

Baca Selengkapnya......

GURU (raGu untuk ditiRu)?

Ada adagium yang cukup populer dalam dunia pendidikan. Bunyinya: attoriqotu ahammu minal maadah, (penguasaa) metodologi lebih penting ketimbang (penguasaan) materi. Artinya, cara menyampaikan (baca: mengajar) materi itu lebih penting dari materi itu sendiri. Tapi benarkah selalu begitu?
Cara guru menyampaikan materi dalam suatu bidang pelajaran memang menentukan apakah materi akan sampai dengan baik kepada peserta didik atau tidak karena masing-masing peserta didik memiliki kelebihan dan kelemahan dalam menangkap informasi (pelajaran). Maka, ahli pendidikan mengklasifikasikan cara belajar individu dengan visual, auditorial, dan kinestetik. Dan masing-masing cara belajar ini memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menangkap materi dengan penyampaian yang berbeda.
Namun, meski digaris bawahi, bahwa kemampuan menyampaikan materi ini sebelumnya telah didahuli oleh penguasaan materi. Karena kalau tidak akan kacau.

Perdebatan monolog
Jum’at (23/10) lalu, seorang teman yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) bercerita tentang guru bahasa Indonesianya yang kurang “memuaskan” saat mengajar.
Menurut pengakuannya, hampir setiap mengajar pelajaran bahasa Indonesia teman ini selalu mengulum senyum karena penjelasan yang diberikan sang guru tidak sesuai dengan yang ia tahu. Tidak pas. Lain.
Bijaknya—karena alasan rasional bahwa guru yang mengajarnya adalah seorang perempuan dan khawatir malu—teman ini diam saja tak mau mendebat dan memprotes penjelasan gurunya yang rada beda dengan pengetahuan secara umum. Kasihan kalau didebat, begitu katanya.
“Kalau gurunya laki-laki saya akan berdebat habis,” tambahnya kemudian.
Saya penasaran. Lalu bertanya apa yang keliru dari yang diajarkan gurunya itu.
Teman SMA ini bercerita suatu saat ketika sang guru menjelaskan materi teater.
“Dalam teater mesti ada dialog. Mesti ada yang ngobrol. Jadi, jumlah minimal pemain teater adalah dua orang karena kalau lebih sedikit dari itu dialog tidak bisa terjadi,” kata teman ini menirukan ucapan guru bahasa Indonesia.
“Kalau monolog bagaimana?” tanya saya.
“Iya padahal di buku ada itu, Kang,” katanya kepada saya, “pointer yang menjelaskan bahwa monolog sebagai bagian dari teater,” lanjutnya. Kemudian ia tertawa.
Saya tersenyum juga mendengar penjelasan “baru” itu.
“Trus monolog apa dong menurut guru kamu?” tanya saya penasaran.
“Monolog adalah ngomong sendiri...”
Dalam hati saya memotong dan membenarkan pernyataan gurunya itu tentang monolog. Tapi kemudian saya tercengang saat teman SMA ini melanjutkan, “Tapi monolog hanya dipakai saat latihan teater. Bukan saat main teater,” begitu katanya menjelaskan uraian gurunya. Lalu ia tertawa terbahak. Terdengar melecehkan sebetulnya.
Pengetahuan teman ini tentang sastra—meski masih muda—tidak bisa dibilang main-main. Juga dalam seni pertunjukan, teater. Ia sering bergumul dengan pertunjukan-pertunjukan teater bahkan pernah beberapa kali menonton pertunjukan teater (salah satunya monolog).
Maka, wajarlah jika teman SMA ini hanya cengar-cengir mendengar penjelasan gurunya yang kurang “sreg” tentang teater.

Pendidikan guru
Keesokan harinya, di koran Kompas, ada sebuah berita mengagetkan saya: banyak guru tak pantas jadi guru. Dalam berita hard news itu, terungkap bahwa banyak guru yang sebenarnya belum layak menjadi guru profesional karena pendidikan mereka masih rendah. Ada yang masih diploma, bahkan masih lulusan SMA. Padahal pemerintah sudah menetapkan bahwa guru mesti berpendidikan minimum D-IV atau strata satu (S1).
Saya kemudian teringat pada sosok guru Bahasa Indonsia teman saya itu. Saya teringat penjelasaanya tentag teater. Tentang monolog.
Saya tak tahu apakah guru bahasa Indonesia teman itu lulusan SMA atau perguruan tinggi karena saat saya bertanya, ia juga tidak tahu gurunya lulusan mana. Yang pasti, guru bahasa Indonesia itu belum menguasai materi. Bisa dibayangkan bagaimana murid-murid yang ia ajar menjawab soal-soal bahasa Indonesia yang berkaitan dengan monolog di Ujian Nasional nanti.
Di saat profesi guru diberi tempat yang terhormat dan diberikan “iming-iming” sejahtera oleh pemerintah (karena banyak juga guru yang belum benar-benar merasakan) apalagi yang sudah sertifikasi, mestinya guru terus memperbaiki kualitas. Banyak membaca karena saat ini pengetahuan mudah didapat. Apalagi di era Google ini.
Saat (hapir) semua informasi bisa didapatkan dengan meng-klik Google—pengetahuan bisa dengan cepat didapat—jangan sampai guru malah kurang up date ketimbang murid dalam hal pengetahuan kontemporer. Memang ini tugas berat. Tapi guru tentu tak boleh kalah dengan murid. Apalagi mengajarkan hal keliru.
Jangan sampai guru yang sejak dulu biasa diakronimkan (sosok yang mesti) digugu dan ditiru menjadi (figur yang) meragukan untuk ditiru.

Baca Selengkapnya......

Senin, 02 November 2009

Mungkinkah Koran Mengontrol Koran?


sumber gambar:http://bebibala2.files.wordpress.com/2009/08/koran1.jpg
Seperti halnya pemerintah yang memerlukan pihak oposisi sebagai penyeimbang pemerintahan, pengontrol kebijakan yang melenceng dari tujuan yang semestinya, demikian juga rasanya dengan media massa.
Media massa memerlukan “oposisi” sebagai penggairah. Sebagai kompas penunjuk arah kalau-kalau sesekali ada media massa yang “tersesat”, “meleceng”, atau yang memang iseng dan sengaja “melanggar”.
Mengapa “oposisi” ini perlu? Media massa (dalam hal ini koran) bisa salah. Untuk itu mesti ada yang mengontrol. Pertanyaannya kemudian adalah siapa yang bisa dan mau menjadi pihak “oposisi” dan mengontrol koran?
Televisi mungkin sudah memiliki badan yang bekerja mengontrol tayangan yang ada yaitu Komisi Penyiaran Indonesia. Di luar itu, televisi mendapatkan “masukan lebih” dari koran harian yang sering mengkritik acara-acara yang bagus dan buruk dalam sebuah pemberitaan koran (biasanya Kompas). Atau juga mengungkap sisi lain dari acara-acara di televisi.
Tapi koran sendiri tidak ada yang mengawasi dan mengkritik (kecuali saat ada majalah Pantau). Koran seakan lain. Mereka bebas melenggang seakan tak ada yang mengawasi. Bukan hanya mengawasi isi tapi juga mengawasi kecenderungan sebuah berita terhadap sesuatu. Seakan koran tak memiliki rem yang dikendalikan oleh orang yang ada di luar mereka. Lalu siapa yang bisa mengontrol koran itu sendiri? Pembaca?
Memang pembaca bisa bahkan sangat memungkinkan mengontrol koran dengan memberikan kritik dan saran. Apalagi jika kritik yang dilakukan disertai dengan pemboikotan, tidak membeli koran yang bersangkutan, misalnya. Dan karena sadar oleh rentannya kekeliruan yang bisa terjadi pada pengelola koran atau segala macam penerbitan itulah, maka ada istilah hak jawab dan hak ralat dalam kode etik jurnalistik. Namun nyatanya tidak banyak yang bisa menulis.
Mungkin, alasannya karena pembaca tidak memiliki waktu yang luang untuk menuliskan kritikan itu. Atau mungkin juga malas. Atau mungkin (dan ini bisa saja terjadi) karena pembaca “tidak bisa” menuliskan kritikannya. Menulis dalam arti tidak pandai merangkai kata untuk itu. Kata seorang teman menulis seperti memasak. Semua orang bisa memasak tapi kelezatan masakannya tentu akan berbeda. Seorang super chef akan menghasilkan masakan yang lezat dan mengundang selera karena telah terlatih. Sedangkan anak manja hanya akan menghasilkan masakan yang akan memalukan dirinya sendiri jika dihidangkan pada orang lain.
Maka, untuk menjembatani ketiadaan “oposisi” itu, rasanya perlu segera didengungkan bersama akan baiknya melakukan kontrol terhadap koran. Dan salah satu yang pantas sebagai monitor koran adalah koran juga. Mungkinkah koran mengontrol koran? Tentu saja. Di Amerika Serikat tradisi koran mengkritik koran sudah lumrah terjadi.
Mengapa mesti koran yang mengontrol koran? Alasan sederhana yang bisa dikemukakan adalah bahwa pengelola koranlah yang tahu banyak tentang “jeroan” koran termasuk apa yang baik dan tidak, apa yang pantas dan tidak, dan seterusnya dalam hal penerbitan.
Di sisi lain, ajang saling mengontrol ini akan membuat kompetisi yang sehat antar pengelola koran sehingga akan tercipta saling “memberi obat”. Meski pahit obat akan mengikis “penyakit” yang ada di koran bahkan menghilangkannya.
Masalahnya kemudian, relakah (baca: maukah) pengelola koran-koran itu saling melemparkan kritik satu sama lain? Jangan-jangan ajang saling kritik malah menjadi hal yang dikhawatirkan karena dimaknai dengan saling “serang”. Padahal kritik dalam konteks ini bermaksud untuk meningkatkan kualitas.
Menurut Andreas Harsono, salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang pernah mendapat program beasiswa untuk wartawan dari Nieman Foundation di Universitas Harvard, Amerika Serikat, tradisi saling kritik ini sudah lama dilakukan oleh koran di negara yang sudah memiliki tradisi yang tua dalam hal jurnalistik, Amerika. Ini sudah cukup lumrah. Dan Andreas percaya bahwa saling kritik ini untuk menguatkan kepercayaan pembaca kepada koran. Mengapa demikian?
Pertama, dengan saling mengkritik, para pengelola koran akan saling berlomba dalam memperbaiki isi atau penyajian berita untuk pembaca. Dengan sadar akan itu, wartawan, redaktur, dan pemimpin redaksi (pimred) akan lebih menggenjot kualitas. Tidak asal ada berita lalu diterbitkan. Tak hanya mempertanyakan berapa keuntungan bulan ini tanpa bertanya kualitas pemberitaan.
Kedua, tradisi mengkritik ini akan membuka cakrawala pembaca yang belum tahu mana yang dikategorikan oleh pengelola media massa sebagai yang bagus, etis, atau yang buruk dan tidak layak. Dengan begitu pembaca akan tercerahkan.
Jika banyak manfaatnya, rasanya koran mesti memikirkan peluang ini. Inilah tantangan yang mesti dijawab oleh pengelola koran.

Baca Selengkapnya......

Waspada Menekan Aksi Teroris

Aksi-aksi teroris walau bagaimana pun tidak akan pernah dibenarkan di mana pun dan kapan pun. Akal sehat tidak akan menerima aksi terorisme sebagai pembenaran. Hati kita juga akan menolak teroris sebagai hal yang mulia. Apalagi agama yang memiliki petunjuk dari Yang Maha Kasih. Saya kira, agama mana pun akan berkata demikian, mulai dari agama terbesar yang dianut oleh masyarakat Indonesia (bahkan dunia) atau agama yang minoritas pemeluk.
Terorisme adalah hal yang tidak akan diterima sebagai kebenaran karena bertentangan dengan nilai universalitas yang dimiliki manusia sejak lahir.
Namun (menurut beberapa pakar) kenyataan menunjukkan bahwa agama memiliki andil tidak sedikit dalam menanamkan ajaran teroris dalam kepala para pelaku teroris. Apakah benar demikian? Apakah agama (terutama Islam) memang membenarkan hal seperti itu?
Saya berani mengatakan tidak. Agama Islam tidak mengajarkan yang demikian. Yang ditekankan dalam agama (Islam) adalah tujuan akhir yang mesti dicapai oleh manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Apakah teror menjadi rahmat bagi manusia? Jelas tidak. Rahmat adalah kedamaian, keamanan, persaudaraan. Sedang teror justru sebaliknya.
Islam memang menganjurkan perang namun juga memiliki syarat-syarat kapan perang itu dibenarkan dalam Islam. Islam membolehkan angkat senjata hanya dalam waktu-waktu “tertentu” misalnya saat ada yang memerangi. Tapi—dalam perang itu—juga Islam memiliki aturan yang mesi ditegakkan. Ada etika meski dalam perang. Seorang muslim tidak dibenarkan untuk membunuh orang-orang yang tidak berdosa seperti warga sipil, anak-anak, wanita. Juga tidak boleh menghancurkan bangunan dan menebangi pohon. Dengan kata lain, Islam menjunjung tinggi kemanusiaan dan alam meski dalam keadaan perang!
Jika Islam menjunjung tinggi kemanusiaan, mana mungkin ia juga mengajarkan agar melukai kemanusiaan itu dalam bentuk teror. Sesuatu yang kontradiktif.
Adanya aksi teroris yang mengatasnamakan Islam sebetulnya lahir karena teks-teks keagamaan dalam Islam diselewengkan oleh mereka yang memiliki keinginan dan ambisi yang “agak aneh”. Ada tiga kemungkinan bagaimana terjadi kesalahan dalam memahami teks-teks suci ini sehingga melahirkan teroris.
Pertama, kemungkinan salah dalam menafsirkan teks keagamaan (al-Quran). Sebagaimana diketahui, untuk bisa memahami teks-teks keagamaan, dibutuhkan beberapa ilmu wajib yang mesti dikuasai sebagai penunjang. Kekurangan dalam penguasaan ilmu-ilmu ini akan berpengaruh dalam memahami teks. Bahkan tak jarang pemahaman yang dimiliki agak melenceng dari yang diinginkan oleh agama tersebut.
Kedua, pelaku memang sengaja mengambil beberapa teks keagamaan yang mendukung untuk melakukan jihad untuk menanamkan “kebenaran” bahwa yang mereka lakukan adalah jihad yang mulia. Padahal sebenarnya ada ayat-ayat lain yang tidak membolehkan jihad karena alasan-alasan tertentu. Dan alasan-alasan ini yang sengaja tidak dikemukakan karena ingin menanamkan doktrin “kebenaran” tadi.
Ketiga, pengulangan doktrin yang dilakukan oleh mereka yang merekrut orang-orang yang bersedia mengorbankan jiwa untuk hal yang sebetulnya belum tentu benar. Apa pun, jika diulang terus menerus akan membuat frame berpikir membenarkan itu meski sebetulnya tidak benar. Sebagai contoh iklan sebuah produk di televisi.
Orang yang sering melihat iklan dalam televis akan tertanam dalam pikirannya bahwa apa yang dilihatnya adalah benar atau baik. Ia juga akan termotivasi menggunakan produk itu karena doktrin-doktrin yang diluncurkan oleh produk tersebut terus diulang.
Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam menekan aksi terorisme?
Yang bisa kita lakukan adalah waspada terhadap segala kemungkinan buruk yang akan dilakukan para teroris itu. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran para pembuat dan pelaku bom. Mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah kita duga dan bayangkan. Untuk itu waspada adalah cara bijak dalam menekan aksi-aksi terorisme yang memiliki seribu kemugkinan. Waspada terhadap orang asing, waspada pada hal-hal yang janggal, dan seterusnya.
Waspadalah dan jangan lengah.

Baca Selengkapnya......