Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 11 November 2008

Cinta Memang Gila


gambar: www.cassanova-id.com
Begitulah yang saya yakini akan sebuah cinta. Cinta bisa mematikan syaraf kewarasan karena pesonanya. Bukan hanya cinta pada lain jenis (atau sesama jenis) tapi juga pada sesuatu selainnya. Cinta pada musik, barang-barang dan lainnya.
Kalau seseorang sudah gila kaerena cinta, maka apa pun yang ia lakukan adalah benar. Etis. Ia tidak peduli orang akan menganggapnya egois atau anti kritik bahkan gila. Yang ada di hati dan pikiran hanya yang dicintainya. Bahkan sampai sakaratul maut pun (mungkin) yang akan ia ucapkan bukan dua kalimat syahadat tapi apa yang ia cintai.
Orang yang gila karena wanita maka akan melakukan apa pun demi mendapatkannya (cinta atau tubuhnya). Ia akan berkorban demi apa yang membuatnya gila. Bila orang yang sudah gila ini disuruh melakukan sesuatu yang gila oleh yang membuanya gila itu, maka ia akan melakukannya. Karena merupakkan kegembiraan tersendiri dapat membahagiakan orang yang ia cintai dengan gila. Maka, kelakuannya akan sama gilanya dengan pikirannya.
Orang yang sudah terjangkit gila pada musik juga begitu. Seperti halnya mencintai wanita yang ingin selalu dekat dengannya, orang yang memiliki cinta gila pada musik, akan selalu berusaha membuatnya dekat bahkan selalu dekat. Ia akan selalu memutarnya kapan pun di mana pun. Bahkan ia bisa memutarnya tiga kali sehari (seperti minum obat) bahkan lebih dari itu. Ia tidak perduli orang lain akan bosan mendengarnya atau malah benci karena sering dengar. Yang penting gue suka yang lain bodo amat. Kalau sudah begini, semua orang menjadi kecil. Tak berarti dan tak diperhitungkan. Hanya dirinya dan yang dicintai yang besar.
Pernahkah Anda mendengar satu lagu diputar sepuluh kali bahkan lebih dalam sehari? Jika tidak, maka saya harus mengucapkan selamat pada Anda. Dengan begitu Anda terbebas dari lingkungan yang sudah gila di atas. Kalau jawaban Anda ya, maka Anda berada pada lingkungan orang-orang gila itu. Gila dengan musik dan lagu itu.
Orang yang gila pada musik pada umumnya sudah mati rasa. Ia sudah tidak peka dengan sekitar. Ia juga contoh yang tepat sebagai sebuah kemunduran. Karena kemajuan selalu berinovasi dengan kebaruan—sedangkan ia hanya mengurusi yang itu-itu saja—maka tak salah bukan julukan itu untuk mereka? Lain halnya dengan tokoh seniman dalam Sang Pemimpi (salah satu buku dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata) yang merasa ‘mati’ dengan sebuah lagu karena sering diminta penonton untuk menyanyikannya. Bahkan kalau dihitung bisa sampai ratusan dan ribuan kali ia nyanyikan. Tapi tokoh seniman kita ini hanya terpaksa menyanyikannya. Sebenarnya ia bosan dengan lagu yang itu-itu saja. Ia ingin menyanyikan lagu lain yang semakin banyak bermunculan. Inilah contoh seniman sejati bukan seniman gila.
Lalu, apakah penyakit gila ini bisa menular? Nampaknya kita harus mencari dan menanyakannya dulu pada teman-teman orang-orang gila ini.
Serang, Oktober 2008

Tidak ada komentar: